Jumat, 22 September 2017

Rindu tak bertuan

Dalam hal yang selalu ku semogakan,
Seringkali ku sebut namamu sembari bersujud berharap,
Karena jika bukan pada-Nya ku mengadu,
Lalu pada siapa?

Sekepal rindu masih dalam genggaman,
Seuntai harap masih seterang asa,
Walau takdir ternyata mengingkari,
Siapa aku boleh merutuki Nasib?

Dalam doa, ku pinta kebahagianmu kekal.
Walau dalam bahagiamu itu tak ada aku,
Sekeras itu kah keinginanku?
Setegas itukah perasaanku?
Ya, mungkin memang begitu.

Dalam rebah sajadah merah,
Air mata ini menjadi saksi penghambaan,
Betapa aku pinta dengan tulus bukan untuk menghilangkan rasa,
Tapi untuk menemukan kamu yang lain.
Entah kini dimana.


Senin, 28 Agustus 2017

Gadis yang merantau

Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (QS. ALmulk : 15)

_____________________________

Merantau.

Terkadang tidak sedikit orang menilaiku egois. Seorang wanita, pergi jauh dari rumahnya. Bepergian kemana saja dia mau. Melangkahkan kakinya kemana saja ia suka. Apakah ia tidak merindukan ayah dan ibunya? Apakah ia tidak merindukan adik2nya?

Ah, terkadang ku jawab dalam hati.

Pertanyaan bodoh macam apa itu!

Anak gadis mana yang tak rindu pelukan hangat ayahnya. Anak gadis mana yang tak rindu belaian sayang ibunya. Anak gadis mana yang tak rindu penjagaan adik laki2nya?

Tapi terkadang kita lupa, bahwa anak gadis juga punya impian. Punya tujuan hidup. Anak gadis juga perlu belajar. Belajar tentang hidup. Belajar tentang rindu.

Ia tahu, tentang bagaimana kodratnya sebagai seorang wanita. Yang nanti kelak akan benar2 keluar dari rumah. Menjadi tanggung jawab pria asing yang entah siapa nanti. Saat itulah wanita tersebut akan meninggalkan keluarganya. Hidup Jauh dari orangtuanya. Kepatuhannya tidak lagi kepada ayah dan ibunya, tapi kepada lelaki asing yang berakad menjaga dan menjadi imamnya.

Wanita itu perlu belajar. Bagaimana rasanya jauh. Bagaimana rasanya rindu. Bagaimana rasanya cinta itu menuntut untuk bertemu.

Terlepas dari itu, ada ilmu-ilmu hidup yang tak didapat hanya dengan berdiam di rumah.
Ada kepedulian yang tumbuh yang tidak akan didapatkan dengan berdiam di rumah.

Ada empati yang tidak akan dipelajari dengan berdiam di rumah.

Ada tekad dan keberanian yang perlu ditumbuhkan dengan keluar dari rumah.

Merantau.
Bukan sekedar tentang keluar dari rumah. Tapi tentang menjelajahi bumi Alloh, demi secuil ilmu hidup. Demi secuil pelajaran. Demi secuil belajar tentang rindu. Tentang ketegaran. Tentang bertahan hidup.

Tangerang, 28 Agustus 2017.

#ErnaMenulis
#MenulisUntukMenyembuhkan

Selasa, 15 Agustus 2017

Kurikulum VS Pendidikan Berbasis Fitrah

Bismillah,

Sesuai janji saya di postingan sebelumnya, Kali ini saya akan membagikan sedikit informasi yang saya dapat dengan menguping materi dari Ustadz Ferous saat mengikuti Parenthood Education Series.

Materi yang disampaikan adalah mengenai kurikulum dan pendidikan berbasi fitrah.

Sebagai seorang yang lulus dari Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, mendengar kata kurikulum tidak asing bagi saya. Berbicara tentang kurikulum berarti berbicara tentang sistem pendidikan. Karena setiap kurikulum pasti berhubungan langsung dengan tujuan sistem pendidikannya.

Menurut UU No. 20 Tahun 2003, pengertian kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pembelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional (wikipedia).

Yang saya garis bawahi disini adalah 'tujuan penddikan nasional'. Jika kurikulum itu dirancang untuk memenuhi tujuan nasional tersebut yang dalam bahasa lain hal tersebut merupakan 'penyeragaman tujuan pendidikan' maka kita pantas untuk melihat apa tujuan nasional tersebut?

Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.(wikipedia)

Pertanyaannya saat ini adalah, apakah kurikulum tersebut dalam pelaksanaannya sudah tepat dengan tujuan tersebut?

Setiap anak adalah unik. setiap anak memiliki potensi, bakat, dan keahlian yang berbeda. Ada anak yang jago matematika tapi tidak pandai berbahasa. Ada anak yang luar biasa kemampuan seninya tapi sulit untuk menghitung angka. Mengutip tujuan nasional tadi yakni mengembangkan "potensi" peserta didik, timbul pertanyaan pertama, apakah kurikulum yang digunakan saat ini sudah melakukan itu?

Berbicara tentang potensi anak berarti berbicara tentang fitrah. mendengar kata fitrah mengingatkan saya akan sebuah hadits yang berbunyi:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa setiap anak memiliki fitrah yang ia bawa sejak lahir, lalu kedua orangtuanya lah yang mengarahkan mereka menjadikan seperti yang mereka inginkan. Walaupun hadits ini berbicara tentang fitrah keimanan tapi hal ini dapat juga dijadikan referensi bahwa setiap anak memiliki pembawaan masing-masing dan lingkungan lah yang mempengaruhi tumbuh kembang Fitrah tersebut

Lalu timbullah pertanyaan kedua, Apakah Kurikulum dapat mempengaruhi perkembangan fitrah anak

Mari kita mencoba menjawab pertanyaan tersebut bersama-sama.

Ustad Ferous mengatakan bahwa Kurikulum seharusnya berjalan beriringan dengan pendidikan fitrah anak. Kurikulum tidak boleh mengintervensi fitrah sehingga mengganggu pertumbuhannya. Dapatkah kurikulum mengganggu pertumbuhan fitrah anak? Tentu saja bisa.

Contohnya, Tumbuh kembang anak diantaranya terdapat perkembangan motorik, perkembangan kognitif, dan perkembangan komunikasi. Jika kurikulum mengabaikan hal ini maka kurikulum tersebut telah mendistorsi pertumbuhan fitrah.

Setiap anak usia PAUD atau TK sedang berkembang motorik kasar dan motorik halusnya. dalam tahap ini anak harus banyak melakukan aktifitas untuk merangsang pertumbuhan motorik tersebut. Tetapi kurikulum tidak memfasilitasi hal ini. Di PAUD dan TK kegiatan fisik (bermain) mulai minim, digantikan dengan kegiatan mengenalkan huruf (membaca) dan mengenal angka (berhitung). hal ini membuat perkembangan motoriknya terhambat. Hal ini lah yang disebut kurikulum mendistorsi Fitrah anak.

Berangkat dari contoh tadi,  dapat kita simpulkan bahwa Kurikulum menganggap yang tidak berkaitan dengan kognitif bukanlah termasuk dalam pendidikan. Maka hal-hal yang berkaitan dengan fitrah anak pun diabaikan. Padahal setiap kemampuan kognitif harus diimbangi dengan tumbuh kembang fitrah anak.

Perlu menjadi perhatian kita bahwa pendidikan sejatinya tidaklah hanya di sekolah. Melainkan di rumah pun harus ada pendidikan pula. Saat di sekolah ananda belajar akademik yakni kurikulum yang berstruktur. Sedangkan saat di rumah ananda belajar kurikulum yang tidak terstruktur. Apa itu? Akhlak misalnya. Nilai-nilai kesopanan, adab, yang tentunya orangtua adalah pengajarnya. Dengan melaksanakan hal ini besar harapan akan ada keseimbangan antara kurikulum dan pendidikan fitrah anak.

nduk'NHA

Sabtu, 12 Agustus 2017

Facebook-Medsos = Portofolio Hidup?

Bismillah,

Kemaren saya mengikuti Parenthood Education Series. Di Sekolah tempat saya mengajar kegiatan ini wajib diikuti untuk semua orangtua murid. Pemateri pada hari itu adalah Ustad Ferous. Ustad Ferous membahas tentang Kurikulum dengan Fitrah anak yang harus bejalan beriringan (nanti Di bahas di Next Blog Yah).

Yang menarik sekali dari materi kemarin adalah tentang Portofolio anak. Dimana di masa depan nanti ijazah menjadi tidak penting karena dunia kerja akan lebih mementingkan pengalaman dan akan menerima seseorang yang sudah jelas kemampuannya melalui portofolio yang ia punya.

Portofolio anak ini berisi tentang apa saja yang sudah ia pelajari di rumah maupun di sekolah. Apa yang menjadi keunggulannya. Apa yang menjeadi kelemahannya. Di bidang apakah dia berbakat, prestasi apa saja yang telah ia dapatkan.

Tapi kali ini saya tidak membahas portofolio anak. Saya membahas portofolio hidup. Pagi ini saya melihat seseorang di Facebook yang statusnya penuh manfaat mengingatkan saya pada Portofolio. Bukankah Profil Facebook kita juga merupakan Portofolio kita yang bebas bisa dilihat siapa saja? Bagaimana dengan medsos yang lain? Bukankah semua itu juga portofolia hidup kita?

Apa yang kita lakukan setiap hari, apa yang kita rasakan, apa yang kita pikirkan? Tempat mana saja yang sudah kita kunjungi? Buku apa yang sudah kita baca?  Pengalaman apa yang telah kita dapatkan?

Saya jadi berpikir, jika status orang tersebut baik dan bermanfaat tentunya hidupnya dapat dikatakan baik. Bagaimana dengan yang hobinya ngoceh, ngedumel, galau, dan marah2 di Facebook?

Atau mungkin di Instagram. Kita pasti bisa menilai orang yang gemar memposting tempat2 indah di berbagai penjuru dunia berarti suka traveling. Atau mungkin orang yang gemar membaca buku akan sering memposting foto halaman dari buku yang ia baca. Atau ada juga orang yang menggunakan media sosial juga untuk mencari nafkah bahkan menggibahi orang.

Terlepas dari semua itu, seseorang bisa dinilai secara sekilas dari apa yang dia posting di media sosial. Dari portofolio hidupnya yang bebas dibaca siapa saja. Orang yang pendiam di dunia nyata bisa saja terlihat asyik dan ramai di media sosial. Begitupun sebaliknya.

Portofolio hidup kita itu, dibagikan luas ke khalayak. Atau bahasa kerennya Netizen. Bebas dilihat siapa saja. Bebas dinilai siapa saja. Itu resikonya. Orang yang menggunakan media sosial harus rela dinilai oleh orang banyak, di komentari oleh mereka yang tidak anda kenal, di puji oleh siapa saja, atau bahkan dihujat oleh khalayak ramai. Dalam artian, portofolio kita di media sosial akan dihakimi oleh semua orang yang melihatnya.

Terlepas dari itu semua ada satu pertanyaan di hati kecil saya. Sadarkah mereka portofolio hidup mereka di media sosial itu juga akan di hisab? Akan dipertanggungkawabkan?

Apa yang kita tulis, apa yang kita baca, apa yang kita bagikan ke orang lain. Akan dimintai pertanggung jawabannya. Esensi waktu yang dilalui. Fasilitas yang digunakan. Apakah untuk hal yang bermanfaat. Apakah untuk hal yang baik. Atau malah sebaliknya untuk menebar berita bohong, atau menyebar kebencian

Ingatkah kita?

Sebelum kita:
√ memberikan comment,
√ memposting sebuah gambar atau meng-upload sebuah video,
√ men-share sebuah artikel atau men-copy paste,

maka perlu dicamkan bahwa:

√ setiap yang kita tulis,
√ gambar yang kita posting,
√ video yang kita upload,
semua akan dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Semuanya tanpa terkecuali.

Huruf-hurufnya akan dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

_"Dan apapun yang meluncur dari lisan manusia (apapun yang anda katakan dan diqiaskan apapun yang anda tuliskan di sosmed tersebut) akan dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid."_

(QS Qāf: 18)

⇛ Semuanya akan dicatat dan akan dihisab oleh Allah.

Allah akan tanya semua artikel yang kita tulis, artikel yang kita copy paste, yang kita share, yang kita berikan pada pihak lain. Kalau kita comment, comment kita akan dihisab oleh Allah

Dan semuanya akan tercatat rapi dibuku para malaikat

Bukankah Allāh berfirman dalam surat Al Infithār ayat 12:

يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ
_"Para malaikat-malaikat itu tahu apa yang kamu ucapkan."_

√ Tahu apa yang kita posting.
√ Tahu apa yang kita upload.
√ Tahu apa yang kita sampaikan kepada orang lain.

Walaupun mungkin tidak pakai nama kita, tapi malaikat tahu kita pakai nama samaran. Lalu kita serang orang, kita jelek-jelekan, kita buat rusuh, para malaikat tahu.

Maka camkan baik-baik, pikirkan matang-matang Makanya Imām Nawawi mengatakan

"Jangan comment  kecuali kita tahu ini bermanfaat bagi kita."

Kalau kita ragu, diam!

Nabi mengatakan:

مَنْ صَمَتَ نَجَا
"Barang siapa yang diam, dia akan selamat"

(HR Tirmidzi nomor 2425 versi maktabatu Al Ma'arif nomor 2501)

Apalagi ini zaman fitnah. Semakin banyak comment semakin banyak hisab kita pada hari kiamat.

Semakin banyak kita aktif, apalagi tidak ada manfaatnya sama sekali, akan semakin banyak pertanyaan-pertanyaan Allāh kepada kita

Ada yang punya Facebook, semakin banyak follower tanggung jawab kita semakin besar dihadapkan Allāh. Semua dihisab

Ada orang punya follower di Twitter misalnya 500 ribu  orang atau 2 juta orang, begitu dia menyampaikan yang salah dan itu diimani/diyakini atau diterima oleh 2 juta, semuanya akan menyalahkan dia pada hari kiamat kelak.

Semua akan dihisab oleh Alloh

Saya menulis ini bukan karena saya sudah bermanfaat. Bukan. Tapi hanya sebagai pengingat diri sendiri dan alhamdulillah jika mengingatkan kamu yang membaca juga.

Wallohualam bissowab.

*hadits didapat dari kajian tematik "adab bermedsos lupa kapannya.. Hehehe



Kamis, 03 Agustus 2017

Daun

بســـم اللّٰه
     ╔════┈•◈◎🌿◎◈•┈════╗
                        

             وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا

   _dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya_
       
          (QS Al An'am : 59)                       
     ╚════┈•◈◎🌿◎◈•┈════╝


Allah pasti tahu meski tidak ada yang memperhatikanmu...

Jika gugurnya sehelai daun di tengah belantara hutan Allaah mengetahuinya, padahal pohon dan daunnya tidak disuruh beribadah (bukan mukallaf) dan tidak pula dihisab, padahal jumlah daun terlalu banyak, maka bagaimana lagi dengan kondisimu, lirikan matamu, gerakan hatimu, sedihnya hatimu, tetesan air matamu, lantunan tilawah quranmu...?!

         •┈┈┈••✦❖✿❖✦••┈┈┈•

                    ☘☘☘


 

Erna Cahaya Template by Ipietoon Cute Blog Design