Senin, 28 Agustus 2017

Gadis yang merantau

Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (QS. ALmulk : 15)

_____________________________

Merantau.

Terkadang tidak sedikit orang menilaiku egois. Seorang wanita, pergi jauh dari rumahnya. Bepergian kemana saja dia mau. Melangkahkan kakinya kemana saja ia suka. Apakah ia tidak merindukan ayah dan ibunya? Apakah ia tidak merindukan adik2nya?

Ah, terkadang ku jawab dalam hati.

Pertanyaan bodoh macam apa itu!

Anak gadis mana yang tak rindu pelukan hangat ayahnya. Anak gadis mana yang tak rindu belaian sayang ibunya. Anak gadis mana yang tak rindu penjagaan adik laki2nya?

Tapi terkadang kita lupa, bahwa anak gadis juga punya impian. Punya tujuan hidup. Anak gadis juga perlu belajar. Belajar tentang hidup. Belajar tentang rindu.

Ia tahu, tentang bagaimana kodratnya sebagai seorang wanita. Yang nanti kelak akan benar2 keluar dari rumah. Menjadi tanggung jawab pria asing yang entah siapa nanti. Saat itulah wanita tersebut akan meninggalkan keluarganya. Hidup Jauh dari orangtuanya. Kepatuhannya tidak lagi kepada ayah dan ibunya, tapi kepada lelaki asing yang berakad menjaga dan menjadi imamnya.

Wanita itu perlu belajar. Bagaimana rasanya jauh. Bagaimana rasanya rindu. Bagaimana rasanya cinta itu menuntut untuk bertemu.

Terlepas dari itu, ada ilmu-ilmu hidup yang tak didapat hanya dengan berdiam di rumah.
Ada kepedulian yang tumbuh yang tidak akan didapatkan dengan berdiam di rumah.

Ada empati yang tidak akan dipelajari dengan berdiam di rumah.

Ada tekad dan keberanian yang perlu ditumbuhkan dengan keluar dari rumah.

Merantau.
Bukan sekedar tentang keluar dari rumah. Tapi tentang menjelajahi bumi Alloh, demi secuil ilmu hidup. Demi secuil pelajaran. Demi secuil belajar tentang rindu. Tentang ketegaran. Tentang bertahan hidup.

Tangerang, 28 Agustus 2017.

#ErnaMenulis
#MenulisUntukMenyembuhkan

Selasa, 15 Agustus 2017

Kurikulum VS Pendidikan Berbasis Fitrah

Bismillah,

Sesuai janji saya di postingan sebelumnya, Kali ini saya akan membagikan sedikit informasi yang saya dapat dengan menguping materi dari Ustadz Ferous saat mengikuti Parenthood Education Series.

Materi yang disampaikan adalah mengenai kurikulum dan pendidikan berbasi fitrah.

Sebagai seorang yang lulus dari Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, mendengar kata kurikulum tidak asing bagi saya. Berbicara tentang kurikulum berarti berbicara tentang sistem pendidikan. Karena setiap kurikulum pasti berhubungan langsung dengan tujuan sistem pendidikannya.

Menurut UU No. 20 Tahun 2003, pengertian kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pembelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional (wikipedia).

Yang saya garis bawahi disini adalah 'tujuan penddikan nasional'. Jika kurikulum itu dirancang untuk memenuhi tujuan nasional tersebut yang dalam bahasa lain hal tersebut merupakan 'penyeragaman tujuan pendidikan' maka kita pantas untuk melihat apa tujuan nasional tersebut?

Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.(wikipedia)

Pertanyaannya saat ini adalah, apakah kurikulum tersebut dalam pelaksanaannya sudah tepat dengan tujuan tersebut?

Setiap anak adalah unik. setiap anak memiliki potensi, bakat, dan keahlian yang berbeda. Ada anak yang jago matematika tapi tidak pandai berbahasa. Ada anak yang luar biasa kemampuan seninya tapi sulit untuk menghitung angka. Mengutip tujuan nasional tadi yakni mengembangkan "potensi" peserta didik, timbul pertanyaan pertama, apakah kurikulum yang digunakan saat ini sudah melakukan itu?

Berbicara tentang potensi anak berarti berbicara tentang fitrah. mendengar kata fitrah mengingatkan saya akan sebuah hadits yang berbunyi:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa setiap anak memiliki fitrah yang ia bawa sejak lahir, lalu kedua orangtuanya lah yang mengarahkan mereka menjadikan seperti yang mereka inginkan. Walaupun hadits ini berbicara tentang fitrah keimanan tapi hal ini dapat juga dijadikan referensi bahwa setiap anak memiliki pembawaan masing-masing dan lingkungan lah yang mempengaruhi tumbuh kembang Fitrah tersebut

Lalu timbullah pertanyaan kedua, Apakah Kurikulum dapat mempengaruhi perkembangan fitrah anak

Mari kita mencoba menjawab pertanyaan tersebut bersama-sama.

Ustad Ferous mengatakan bahwa Kurikulum seharusnya berjalan beriringan dengan pendidikan fitrah anak. Kurikulum tidak boleh mengintervensi fitrah sehingga mengganggu pertumbuhannya. Dapatkah kurikulum mengganggu pertumbuhan fitrah anak? Tentu saja bisa.

Contohnya, Tumbuh kembang anak diantaranya terdapat perkembangan motorik, perkembangan kognitif, dan perkembangan komunikasi. Jika kurikulum mengabaikan hal ini maka kurikulum tersebut telah mendistorsi pertumbuhan fitrah.

Setiap anak usia PAUD atau TK sedang berkembang motorik kasar dan motorik halusnya. dalam tahap ini anak harus banyak melakukan aktifitas untuk merangsang pertumbuhan motorik tersebut. Tetapi kurikulum tidak memfasilitasi hal ini. Di PAUD dan TK kegiatan fisik (bermain) mulai minim, digantikan dengan kegiatan mengenalkan huruf (membaca) dan mengenal angka (berhitung). hal ini membuat perkembangan motoriknya terhambat. Hal ini lah yang disebut kurikulum mendistorsi Fitrah anak.

Berangkat dari contoh tadi,  dapat kita simpulkan bahwa Kurikulum menganggap yang tidak berkaitan dengan kognitif bukanlah termasuk dalam pendidikan. Maka hal-hal yang berkaitan dengan fitrah anak pun diabaikan. Padahal setiap kemampuan kognitif harus diimbangi dengan tumbuh kembang fitrah anak.

Perlu menjadi perhatian kita bahwa pendidikan sejatinya tidaklah hanya di sekolah. Melainkan di rumah pun harus ada pendidikan pula. Saat di sekolah ananda belajar akademik yakni kurikulum yang berstruktur. Sedangkan saat di rumah ananda belajar kurikulum yang tidak terstruktur. Apa itu? Akhlak misalnya. Nilai-nilai kesopanan, adab, yang tentunya orangtua adalah pengajarnya. Dengan melaksanakan hal ini besar harapan akan ada keseimbangan antara kurikulum dan pendidikan fitrah anak.

nduk'NHA

Sabtu, 12 Agustus 2017

Facebook-Medsos = Portofolio Hidup?

Bismillah,

Kemaren saya mengikuti Parenthood Education Series. Di Sekolah tempat saya mengajar kegiatan ini wajib diikuti untuk semua orangtua murid. Pemateri pada hari itu adalah Ustad Ferous. Ustad Ferous membahas tentang Kurikulum dengan Fitrah anak yang harus bejalan beriringan (nanti Di bahas di Next Blog Yah).

Yang menarik sekali dari materi kemarin adalah tentang Portofolio anak. Dimana di masa depan nanti ijazah menjadi tidak penting karena dunia kerja akan lebih mementingkan pengalaman dan akan menerima seseorang yang sudah jelas kemampuannya melalui portofolio yang ia punya.

Portofolio anak ini berisi tentang apa saja yang sudah ia pelajari di rumah maupun di sekolah. Apa yang menjadi keunggulannya. Apa yang menjeadi kelemahannya. Di bidang apakah dia berbakat, prestasi apa saja yang telah ia dapatkan.

Tapi kali ini saya tidak membahas portofolio anak. Saya membahas portofolio hidup. Pagi ini saya melihat seseorang di Facebook yang statusnya penuh manfaat mengingatkan saya pada Portofolio. Bukankah Profil Facebook kita juga merupakan Portofolio kita yang bebas bisa dilihat siapa saja? Bagaimana dengan medsos yang lain? Bukankah semua itu juga portofolia hidup kita?

Apa yang kita lakukan setiap hari, apa yang kita rasakan, apa yang kita pikirkan? Tempat mana saja yang sudah kita kunjungi? Buku apa yang sudah kita baca?  Pengalaman apa yang telah kita dapatkan?

Saya jadi berpikir, jika status orang tersebut baik dan bermanfaat tentunya hidupnya dapat dikatakan baik. Bagaimana dengan yang hobinya ngoceh, ngedumel, galau, dan marah2 di Facebook?

Atau mungkin di Instagram. Kita pasti bisa menilai orang yang gemar memposting tempat2 indah di berbagai penjuru dunia berarti suka traveling. Atau mungkin orang yang gemar membaca buku akan sering memposting foto halaman dari buku yang ia baca. Atau ada juga orang yang menggunakan media sosial juga untuk mencari nafkah bahkan menggibahi orang.

Terlepas dari semua itu, seseorang bisa dinilai secara sekilas dari apa yang dia posting di media sosial. Dari portofolio hidupnya yang bebas dibaca siapa saja. Orang yang pendiam di dunia nyata bisa saja terlihat asyik dan ramai di media sosial. Begitupun sebaliknya.

Portofolio hidup kita itu, dibagikan luas ke khalayak. Atau bahasa kerennya Netizen. Bebas dilihat siapa saja. Bebas dinilai siapa saja. Itu resikonya. Orang yang menggunakan media sosial harus rela dinilai oleh orang banyak, di komentari oleh mereka yang tidak anda kenal, di puji oleh siapa saja, atau bahkan dihujat oleh khalayak ramai. Dalam artian, portofolio kita di media sosial akan dihakimi oleh semua orang yang melihatnya.

Terlepas dari itu semua ada satu pertanyaan di hati kecil saya. Sadarkah mereka portofolio hidup mereka di media sosial itu juga akan di hisab? Akan dipertanggungkawabkan?

Apa yang kita tulis, apa yang kita baca, apa yang kita bagikan ke orang lain. Akan dimintai pertanggung jawabannya. Esensi waktu yang dilalui. Fasilitas yang digunakan. Apakah untuk hal yang bermanfaat. Apakah untuk hal yang baik. Atau malah sebaliknya untuk menebar berita bohong, atau menyebar kebencian

Ingatkah kita?

Sebelum kita:
√ memberikan comment,
√ memposting sebuah gambar atau meng-upload sebuah video,
√ men-share sebuah artikel atau men-copy paste,

maka perlu dicamkan bahwa:

√ setiap yang kita tulis,
√ gambar yang kita posting,
√ video yang kita upload,
semua akan dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Semuanya tanpa terkecuali.

Huruf-hurufnya akan dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

_"Dan apapun yang meluncur dari lisan manusia (apapun yang anda katakan dan diqiaskan apapun yang anda tuliskan di sosmed tersebut) akan dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid."_

(QS Qāf: 18)

⇛ Semuanya akan dicatat dan akan dihisab oleh Allah.

Allah akan tanya semua artikel yang kita tulis, artikel yang kita copy paste, yang kita share, yang kita berikan pada pihak lain. Kalau kita comment, comment kita akan dihisab oleh Allah

Dan semuanya akan tercatat rapi dibuku para malaikat

Bukankah Allāh berfirman dalam surat Al Infithār ayat 12:

يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ
_"Para malaikat-malaikat itu tahu apa yang kamu ucapkan."_

√ Tahu apa yang kita posting.
√ Tahu apa yang kita upload.
√ Tahu apa yang kita sampaikan kepada orang lain.

Walaupun mungkin tidak pakai nama kita, tapi malaikat tahu kita pakai nama samaran. Lalu kita serang orang, kita jelek-jelekan, kita buat rusuh, para malaikat tahu.

Maka camkan baik-baik, pikirkan matang-matang Makanya Imām Nawawi mengatakan

"Jangan comment  kecuali kita tahu ini bermanfaat bagi kita."

Kalau kita ragu, diam!

Nabi mengatakan:

مَنْ صَمَتَ نَجَا
"Barang siapa yang diam, dia akan selamat"

(HR Tirmidzi nomor 2425 versi maktabatu Al Ma'arif nomor 2501)

Apalagi ini zaman fitnah. Semakin banyak comment semakin banyak hisab kita pada hari kiamat.

Semakin banyak kita aktif, apalagi tidak ada manfaatnya sama sekali, akan semakin banyak pertanyaan-pertanyaan Allāh kepada kita

Ada yang punya Facebook, semakin banyak follower tanggung jawab kita semakin besar dihadapkan Allāh. Semua dihisab

Ada orang punya follower di Twitter misalnya 500 ribu  orang atau 2 juta orang, begitu dia menyampaikan yang salah dan itu diimani/diyakini atau diterima oleh 2 juta, semuanya akan menyalahkan dia pada hari kiamat kelak.

Semua akan dihisab oleh Alloh

Saya menulis ini bukan karena saya sudah bermanfaat. Bukan. Tapi hanya sebagai pengingat diri sendiri dan alhamdulillah jika mengingatkan kamu yang membaca juga.

Wallohualam bissowab.

*hadits didapat dari kajian tematik "adab bermedsos lupa kapannya.. Hehehe



Kamis, 03 Agustus 2017

Daun

بســـم اللّٰه
     ╔════┈•◈◎🌿◎◈•┈════╗
                        

             وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا

   _dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya_
       
          (QS Al An'am : 59)                       
     ╚════┈•◈◎🌿◎◈•┈════╝


Allah pasti tahu meski tidak ada yang memperhatikanmu...

Jika gugurnya sehelai daun di tengah belantara hutan Allaah mengetahuinya, padahal pohon dan daunnya tidak disuruh beribadah (bukan mukallaf) dan tidak pula dihisab, padahal jumlah daun terlalu banyak, maka bagaimana lagi dengan kondisimu, lirikan matamu, gerakan hatimu, sedihnya hatimu, tetesan air matamu, lantunan tilawah quranmu...?!

         •┈┈┈••✦❖✿❖✦••┈┈┈•

                    ☘☘☘


Selasa, 25 Juli 2017

Yacouba Sawadago, Penghijau Gurun Pasir





Bismillah,

Berawal dari postingan di grup Sekolah. Penasaran. Buka Youtube. Terkesima. Lalu terjadilah tulisan ini.

Orang-orang menyebutnya "The Man Who Stopped The Dessert" yang artinya Pria yang menghentikan penggurunan. Sebutan ini jugalah yang menjadi judul film dokumenter yang saya tonton. Film tersebut kurang lebih berdurasi 55 menit. Film yang sangat menarik.

Namanya Yacouba Sawadago. Beliau adalah seorang petani muslim dari Burkani Faso sebuah negara di Afrika Barat yang terkurung daratan. Daerah ini secara berkala menderita kekeringan. Kekeringan terbesar terjadi pada tahun 1970-an yang menyebabkan kelaparan dan menewaskan banyak orang. Kekeringan ini berdampak pada penggurunan yang meluas.

Mengenal beliau mengajarkan kita bahwa perubahan, tidak butuh suara. Cukup kesabaran dan aksi yang kita lakukan. Selama ini banyak kita temukan orang-orang yang berkoar-koar ingin melakukan perubahan, namun tidak banyak yang benar-benar melakukannya. Kisah beliau yang gigih dan konsisten melakukan hal yang ia yakini akhirnya berbuah hasil. Gurun yang gersang berubah hijau berkat ketekunan dan keuletannya mengolah tanah selama kurang lebih tiga puluh tahun lamanya.

Beliau menggunakan teknik pertanian kuno masyarakat Afrika yang disebut Zai. Teknik ini dilakukan dengan menggali lubang-lubang di tanah, memberi pupuk kepada lubang-lubang tersebut, lalu memindahkan rayap, semut dan hewan tanah lainnya kesitu dengan tujuan hewan tersebut akan membuat terowongan dalam tanah yang nantinya akan menjadi jalan masuknya air.

Bertahun-tahun lamanya Yacouba melakukan ini. Berbekal sekop dan pacul ia menjelajahi gurun Sahara. Konsisten mengolah tanah tandus dan menyebar bibit. Orang-orang mengatakannya gila. Mengatakan bahwa apa yang dilakukan beliau hanyalah sia-sia belaka. Sampai tahun-tahun berlalu bibit yang Beliau sebar tumbuh, gurun mulai menghijau, hewan mulai berdatangan, dan tanah subur kembali.

Ketekunan dan keyakinan Yacouba berusaha untuk menghijaukan gurun pasir mengingatkan saya pada salah satu firman Alloh yang berbunyi:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ..... ۗ

"...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..."

Saat itu, diketahui semua saudara, tetangga, dan kerabat Yacouba yang tinggal di kampungnya memilih untuk hijrah karena keadaan lahan pada saat itu sudah tidak lagi menjanjikan. Ternak mati, tanah gersang, air pun susah. Tapi Yacouba memilih untuk tidak menyalahkan alam. melainkan ia berusaha untuk memperbaiki, berusaha melestarikan, berusaha untuk mengubah keadaan. dan akhirnya dengan ijin Alloh, beliau berhasil bukan?

Apakah Yacouba secara instan mendapatkan perubahan tersebut? No. Yang ia dapatkan adalah cacian, hinaan, dikatakan gila, tapi pada akhirnya keyakinan dan ketekunannya membuahkan hasil. belajar dari beliau membuat saya sadar dalam kehidupan ini seringkali kita dihadapkan pada keadaan dan situasi yang datang bukanlah sesuai dengan yang kita harapkan. 

Sebenarnya hukum alam itu sesungguhnya sederhana saja. Barang siapa mencelupkan jarinya ke air mendidih, mendapatkan jarinya lepuh. Pasukan yang lebih gigih berperang, lebih gagah bertempur – tanpa takut akan kegagalan – akan meraih kemenangan. Orang yang lebih tekun bekerja, lebih giat berusaha, tanpa pernah mudah menyerah dalam berusaha – akan memperoleh penghasilan dan kesuksesan.

Sayangnya, banyak orang yang mengingkari hukum ini. Hanya karena mempercayai bahwa “langit itu adil” dan merasa percaya pada sang langit, kemudian kebanyakan orang hanya berharap emas jatuh ke pangkuan begitu saja. Padahal tiada imbalan yang dapat diraih tanpa usaha. Keyakinan dan ketekunan tak pernah jauh dari imbalan itu sendiri. Sebuah keyakinan memberi makna pada usaha yang kita terima. Maka imbalan pun pasti akan memenuhi jiwa kita.

Keyakinan akan memperkaya batin kita. Sedangkan ketekunan akan mendekatkan pada keberhasilan usaha.
Bukankah kita sering mendengar pepatah arab yang mengatakan bahwa Man Jadda Wa Jada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil.

Selain itu, menengok keadaan alam tersebut dan bagaimana usaha Yacouba berusaha memperbaiki dan melestarikan lingkungannya mengingatkan saya pada hakikat manusia sesungguhnya. Mengapa dan untuk apa manusia diciptakan? Ya, benar. Sebagai khalifah di bumi.

Manusia sebagai khalifah harus bertindak bijak dalam hubungannya dengan alam. Hubungan manusia dengan alam pada dasarnya didasarkan pada dua prinsip yaitu: pertama, kewajiban menggali dan mengelola alam dan segala kekayaannya dan kedua manusia sebagai pengelola alam tidak diperkenankan merusak lingkungan karena kerusakan lingkungan pada akhirnya akan merusak kehidupan umat manusia itu sendiri. 

Kekeringan yang melanda kampung halaman Yacouba, tidak serta merta terjadi begitu saja. Selain karena memang keadaan alam terdapat juga faktor lainnya seperti penggembalaan berlebihan, pengelolaan lahan yang buruk, dan kelebihan populasi.

Hal ini mengingatkan saya bahwa Alloh berfirman dalam surat Hud ayat 61 yang artinya: "Dia (ALLAH) telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan memerintahkan kalian memakmurkannya (mengurusnya)". Juga pada surat Al-A'raf ayat 56 yang artinya : "Janganlah kamu berbuat kerusakan dimuka bumi setelah ALLAH memperbaikinya".

Adakalanya manusia serakah mengeksploitasi alam dengan berlebihan karena kebutuhan. Mereka seringkali lupa menjaga keseimbangan. Alam diciptakan Allah memang untuk dimanfaatkan, tapi bukankah Allah juga menyuruh kita menjaga dan melestarikannya? Hal ini lah yang sering kita lupakan.

Melalui Yacouba saya belajar bahwa apa yang kita lakukan pada alam akan bertimbal balik pada kita juga. Sebelumnya alam diperlakukan tidak ramah maka ia menjadi tandus, kering dan gersang. Sebaliknya Yacouba mencoba berdamai dengan alam. Tekun menggarap bertahun-tahun hingga alam pun kembali seperti sediakala. Subur, Hijau, dan asri.

nduk'NHA

Sabtu, 21 Januari 2017

Daun yang jatuh tak pernah menangis

Mencoba ikhlas seperti dedaunan yang jatuh ini tidak mudah. Adakalanya rasa sakit itu datang, penyesalan, airmata, tidak rela, menyelimuti hati dengan kesedihan.


Tapi bukankah memang seperti itu sunnatulloh nya? Wajar. Jika kamu sakit, kamu sedih, kamu tidak rela. Tapi jikalau itu berlarut-larut hal itu akan terus menerus menggerogoti hatimu. Hingga kau terus menerus terpuruk pada sedih tak berujung.


Kau tau, apa yang ada di dunia ini hanyalah bersifat sementara. Apa saja itu. Semuanya. Hanya titipan. Harta, Tahta, Jodoh, Pertemuan, semuanya titipan.


Dimana semua itu diberikan kepadamu sebagai titipan. Properti, dalam episode kehidupan. Semua itu bukan milikmu. Dia-lah yang berhak menetapkan segalanya.

Kapan Ia beri kau harta yang melimpah. Kapan Ia mengambilnya.

Kapan Ia pertemukan kau dengan jodohmu, kapan Ia memisahkan.

Semua itu hak-Nya. Ketentuannya.

Jika harta yang baru saja dititipkan hilang, Mungkin Alloh rasa kau belum pantas untuk mendapatkan lebih banyak. Atau mungkin saja Alloh menilai kau belum butuh dan ada orang lain yang lebih butuh darimu.

Jika Alloh mempertemukan kamu dengan seseorang, lalu Ia memisahkan kalian. Mungkin saja dengan terus bersama itu akan menjadi kemudharatan untukmu, mungkin saja akan lebih baik jika kalian berpisah.

Jika Alloh menunda jodohmu, mungkin saja Alloh ingin dirimu fokus memperbaiki diri. Mengejar mimpi2mu yang belum tercapai. Bepergian ke tempat yang ingin kau kunjungi.

Dia Sang Maha Berhak. Yang Maha Tau. Yang Maha Bijaksana. Yang Maha Segalanya.

Tidak pernah salah dalam mengambil keputusan. Jadi percayalah padanya. Berprasangka baiklah padaNya.

Syukuri apa yang datang. Relakan apa yang pergi. Ambil hikmah dan pelajarannya. Ikhlaslah menjalani segala ketetapan-Nya.

Setialah menanti ketetapan terbaik yang disiapkan Alloh untukmu. Rejeki yang Alloh akan berikan saat kau siap menerimanya.

Stay Positive, keep Husnud-Dzon.

___________________________________

Bekasi, 22 Januari 2017.
#ErnaTalk
#MenulisUntukMenyembuhkan
#MenulisUntukMembahagiakan
#MenulisUntukMencerahkan


Jumat, 30 Desember 2016

New Episode, Cooming Soon 2017

Setiap kita pasti memiliki berbagai macam episode kehidupan. Ada episode yang membahagiakan, ada episode yang mengecewakan, ada episode yang menyedihkan, ada episode yang mengharukan, ada episode yang membanggakan, ada episode yang mendebarkan, ada episode yang menegangkan, dan lain sebagainya.

Apapun itu episode nya, semuanya telah dilalui. Berbagai macam episode tersebut tentunya meninggalkan berbagai kesan yang mendalam. Senang, sedih, kecewa, takut, apapun itu sekali lagi semua telah lewat. Hal ini nantinya hanya akan menjadi suatu memori, kenangan, di masa lampau.

Episode yang telah berlalu ini biasa kita sebut dengan masa lalu. Masa yang telah kita lewati. Masa yang sangat jauh. Masa yang tidak akan pernah kembali. Kenangan.

Masa lalu ada sebagai hikmah, sebagai pengalaman, sebagai pelajaran hidup, Agar di masa depan nanti kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Masa lalu ada bukan untuk diratapi, ditangisi, disesali, tapi untuk sebagai pengingat diri. Jangan lupa bahwa masa depan jauh lebih dekat dan penting untuk dipikirkan daripada mikirin hal yang sudah pasti nggak bisa kita ubah.

Layaknya tahun baru selalu diawali dengan resolusi. Tapi jangan lupa untuk selalu evaluasi.

Welcome 2017.


Sabtu, 24 Desember 2016

Gunung Salak - Kawah Ratu - Puncak Halimun

Jingga Teacher Recognition
21-23 Desember 2016
Kawah Ratu – Gunung Salak – Bogor

Jingga Recognition merupakan acara yang diadakan oleh Sekolah alam Jingga Life School sebagai momen Refleksi para fasilitator selama setahun. Recognition ini diadakan dari tanggal 21 Desember sampai tanggal 23 Desember 2016. Recognition diadakan di Kawah Ratu House (Camping Ground) Gunung Salak –Halimun Bogor. Acara Recognition ini diselenggarakan dalam bentuk Camping  selama tiga hari dua malam dengan agenda utama Tracking ke Kawah Ratu.

Sebelum Recognition dimulai, para fasilitator terlebih dahulu dibagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok-kelompok ini kemudian diberi pengarahan mengenai perbekalan dan perlengkapan yang harus disiapkan oleh masing-masing kelompok. Masing-masing kelompok kemudian berdiskusi untuk melengkapi peralatan yang harus mereka bawa, serta  merencanakan itenary perjalanan menuju lokasi Recognition sebelum dan sesudah kegiatan. Butuh waktu seminggu untuk mempersiapkan segalanya. Ada yang melengkapi peralatan mereka dengan meminjam, menyewa, membeli, ada juga yang memang milik pribadi.

Perjalanan menuju kegiatan Recognition dimulai dengan berkumpul di meeting point  Stasiun Bekasi  pukul 04.30 wib.  Kami semua berangkat menuju Bogor dengan menggunakan kereta pertama dari Bekasi yang berangkat pukul 05.10 WIB. Pada awalnya ada beberapa anggota kelompok yang terlambat. Ada yang memutuskan untuk menunggu anggota kelompok mereka, ada yang memutuskan untuk berpisah jalan dan bertemu di stasiun Bogor. Kelompok kami memilih untuk berpisah sementara di Stasiun Bekasi dan akan berkumpul kembali di Stasiun Bogor. Hal ini dikarenakan ada anggota kelompok kami yang terlambat. Kami membagi diri menjadi dua kelompok. Kelompok pertama akan berangkat lebih dulu dan kelompok berikutnya akan menyusul. Hal ini diputuskan dengan pertimbangan kereta dengan jadwal keberangkatan semakin siang akan sangat padat karena kami melakukan perjalanan di hari kerja.  Mengingat barang bawaan yang sangat banyak akan sulit jika kami berada di dalam kereta yang penuh. Anggota kelompok yang membawa peralatan kelompok (tenda, terpal, dll) akhirnya berangkat lebih dulu.

Sesampainya di Stasiun Bogor, kami singgah di Mushola Stasiun untuk melaksanakan shalat dhuha sekaligus menunggu anggota kelompok lainnya. Kurang lebih tiga puluh menit kemudian mereka tiba dan kami memulai perjalanan ke tempat Recognition. Kami memilih menggunakan Grab Car dengan alasan lebih simple, murah, dan hemat biaya. Tetapi ternyata kami mendapat supir yang kurang profesional. Setelah beberapa menit perjalanan supir tersebut mengatakan ia tidak mau mengantar kami sampai tempat tujuan dengan alasan tempat terlalu jauh dan lain sebagainya. Ia mengaku tahu daerah tujuan dan menyebutkan bahwa daerah tujuan rawan begal. Alasan sebenarnya adalah karena supir tersebut tidak ingin rugi mengingat tujuan kami memang lumayan jauh. Saya sempat emosi tetapi memutuskan untuk diam. Supir tersebut berniat menurunkan kami di daerah Cibatok. Logikanya, setiap supir Grab Car selalu tau kemana tujuan konsumen sebelum memutuskan mengantar. Jika ia tidak berkenan untuk mengantar ia bisa mengcancel order tersebut sehingga kami bisa mencari supir yang lain. Pengalaman perjalanan sebelumnya dengan kondisi jalan yang lumayan ekstrim pun banyak supir yang mau mengantar kami. Jadi kami pasti bisa mendapatkan supir lain yang mau mengantar. Kami lumayan kesal pada supir ini. Setelah berdiskusi dengan kelompok kami, kami memutuskan untuk mengalah dan turun di Cibatok lalu mencarter angkot untuk sampai ke tempat tujuan. Kami hanya membayar separuh harga dari harga yang tertera.

Setelah naik angkot pun, angkot kami sempat tidak bisa naik dan berhenti di tengah jalan. Medan yang kami lalui memang lumayan tinggi. Kami sempat turun dan berjalan  sebentar agar angkot yang kami naiki dapat melanjutkan perjalanan. Sekitar pukul 10.50 WIB kami sampai di gerbang belakang camping ground (bukan gerbang utama). Rupanya kami harus sedikit berjalan menanjak ke arena Camping. Mengingat kami bukanlah pendaki berpengalaman, berjalan mendaki dengan beban berat lumayan menguras tenaga. Tapi kami bekerja sama, saling menyemangati, sampai kami semua tiba di arena camping.

Tepat pukul 11:18 WIB kami sampai dan sudah ada panitia yang berada di sana. Tapi rupanya belum ada kelompok lain. Belakangan kami tahu, ada satu kelompok yang sudah sampai lebih dulu tapi menunggu di gerbang utama. Rupanya salah satu anggota kelompok ini ada yang pingsan saat di perjalanan. Sambil menunggu anggota kelompok yang lain, kami beristirahat, makan siang dengan bekal yang kami bawa, dan solat Zuhur saat azan berkumandang.

Sekitar pukul 13.00 WIB kelompok lain datang bersama dengan kelompok yang sebelumnya sudah sampai tetapi menunggu di bawah. Setelah semua solat Zuhur, kami semua berkumpul untuk mengikuti pengarahan dari Panitia yang diwakili oleh penanggung jawab acara Pak Isnan Santoso. Pak Isnan menyampaikan tentang peraturan saat Recognition, rundown acara, dan beberapa pengarahan. Peraturan saat itu adalah termasuk tidak diperbolehkan untuk berinteraksi dengan gadget. Jujur awalnya saya sangat keberatan. Tapi belakangan saya mengerti bahwa tidak merelakan gadget saya selama di gunung adalah keputusan yang benar.

Setelah pengarahan selesai kami mendirikan tenda dan mengikuti apel pembukaan. Pada saat apel Pembukaan, Pak Isnan selaku penanggung jawab acara memaparkan tujuan dari diadakannya acara Jingga Teacher Recognition. Setelah Apel selesai kami lalu memasak (Jungle Cooking) untuk makan siang (masih ada kelompok yang rupanya belum makan). Saat itu kami memilih menu yang mudah untuk disajikan. Kami hanya memasak nasi putih lalu meyajikannya dengan mie goreng dan orek tempe yang sudah kami bawa dari rumah. Setelah itu kami berkumpul. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Awalnya kami dipisah berdasarkan kelompok. Lalu berdasarkan kelas. Sampai kami berpasangan. Saat itu kami belum tahu apa maksud kami dipasangkan. Ternyata kami dipasangkan untuk saling menyuapi saat makan dengan menggunakan tangan.

Mungkin bagi sebagian orang melakukan hal ini adalah hal yang menjijikkan. Tapi ini adalah kegiatan yang menyenangkan. Bagi saya ini adalah momen yang lucu sekaligus menjadi momen yang indah. Tidak hanya saling menyuapi tapi kami juga saling berbagi. Setelah makan siang selesai kami membereskan bekas makan lalu bersiap untuk agenda berikutnya.

Setelah makan siang selesai panitia membimbing kami untuk melakukan sebuah study kasus. Kasus yang diberikan adalah tentang kecelakaan pesawat. Ada sebuah pesawat yang jatuh / kecelakaan di sebuah tempat yang sangat dingin. Beberapa benda tersisa dan masih dapat digunakan. Kami diminta untuk mengurutkan benda-benda tersebut sesuai dengan tingkat kepentingannya beserta alasan mengapa benda itu penting. Melalui study kasus ini kami belajar tentang memilih prioritas dan kebutuhan. Setelah study kasus selesai kami bersiap mengikuti Spirit Pump dari Pak Ari.

Seperti biasa, mendengarkan spirit pump dari Pak Ari serasa mencharge ulang semangat yang sempat kendur. Liburan telah tiba, aura bersantai dan bermalas-malasan dirasakan oleh semua Fasilitator. Pak Ari memberi semangat dan mengingatkan kembali kepada kita pentingnya menyelesaikan tugas sebelum beristirahat. Hal ini beliau umpamakan dengan menceritakan perjalanannya saat mendaki gunung. Saat sedang dalam perjalanan seringkali kita menemui hambatan, tantangan, dan rintangan. Rasa lelah, capek, dan ingin beristirahat pasti ada. Tapi disaat kita masih memiliki setumpuk tanggungjawab yang belum selesai beristirahat hanyalah akan menambah beban. Itu sama saja menunda keberhasilan kita. Saat kita mampu menunda kesenangan sesaat maka saat itulah keberhasilan akan dapat kita raih. Pak Ari juga menyampaikan tentang keyakinan. Dimana saat kita melakukan sesuatu dengan ragu-ragu dapat dipastikan hasil yang kita capai akan kurang memuaskan bahkan mungkin saja dapat mengecewakan. Apapun itu lakukanlah dengan keyakinan.

Setelah spirit pump selesai, kami shalat magrib berjamaah dijamak dengan shalat isya. Setelah itu kembali mempersiapkan makan malam. Saat makan malam, kami tidak lagi berpasangan dan suap-suapan. Melainkan menu makanan kami ditukar antar kelompok. Walaupun seperti itu, tetap saja makanan yang kami makan banyak jenisnya karena kami saling berbagi.

Setelah makan malam selesai, kami bersantai sejenak di lapangan tempat biasa kami berkumpul. Ada yang saling bercerita, ada yang saling pijat-pijatan dan lain sebagainya. Peluit berbunyi memanggil ketua kelompok. Kami akan melakukan games. Games kali ini adalah mencari sebuah barang yang hilang sesuai dengan klu atau petunjuk yang diberikan oleh ketua kelompok. Kami mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikann oleh ketua seblum melakukan misi, yaitu menemukan benda yang dimaksud. Kelompok kami berhasil menemukan dua benda yang harus ditemukan dengan tepat waktu. Games ini mungkin terlihat sederhana, tapi apabila tidak mengikuti petunuk yang diberikan permainan akan terlihat sulit. Ini dibuktikan oleh kelompok lain yang tidak dapat menemukan benda yang dicari dengan alasan tidak mengetahui apa benda yang dimaksud. Usut punya usut kelompok tersebut tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh ketua kelompoknya.

Games ini mengajarkan kepada kami bahwa dalam sebuah organisasi kepercayaan kepada pemimpin sangatlah penting. Intruksi seorang pemimpin penting untuk diikuti demi kelancaran tuuan bersama. Sejatinya seorang pemimpin tidak akan menjerumuskan orang yang dipimpinnya. Jadi Apapun hal yang mereka putuskan pasti ada alasannya untuk kemaslahatan orang banyak. Adapun jika ada hal yang menjadi pertanyaan, sahsah saja kita bertanya asalkan sesuai dengan adab serta dengan cara yang baik dan sopan. Pentingnya percaya kepada pemimpin menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan sebuah organisasi. Setelah games ini selesai kami beristirahat. Sebelum kami beristirahat kami telah diberikan jadwal piket jaga. Kami beristirahat sesuai dengan jadwal piket jaga tersebut.

Waktu  menunjukkan pukul dua pagi. Sebagian besar anggota kelompok saya bangun untuk melaksanakan salat lail. Setelah itu kami bersiap untuk solat subuh berjamaah. Setelah solat subuh berjamah, Pak Isnan yang mengimami kami menyampaikan beberapa tauziah. Tauziah ini menurut saya adalah hal yang paling berkesan saat recognition. Pak Isnan menyampaikan kembali tujuan mengapa recognition ini diadakan. Momen ini saya pakai untuk merenung. Sambil mendengarkan tauziah saya mengintropeksi diri. Mengingat apa saja kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan. Pantas dan tidaknya hal itu dilakukan sebagai seorang fasilitator. Berkaitan dengan adab dan akhlak memang hanya orang lain yang bisa menilai, karena mereka lah yang melihat, bukan kita. Mungkin bagi sebagian orang apa yang mereka lakukan biasa saja, tapi bisa saja ternyata terlihat buruk di mata orang lain.

Begitu tauziah selesai kami bersiap untuk sarapan. Setelah itu kami melakukan pemanasan sebagai persiapan Tracking, acara inti, menuju Kawah Ratu. Satu hal yang ditekankan sejak awal, Puncak adalah Bonus, yang terpenting adalah kembali dengan selamat. Dengan membaca Bismillah akhirnya pendakian dimulai.

Sebelum pergi camping, saya sudah terlebih dahulu mencari tahu tentang Kawah ratu. Kawah ratu adalah sebuah kawah Vulkanik yang masih aktiv dan terletak di Gunung Salak. Yang menarik dari Kawah Ratu ini adalah Kawahnya berada di lereng gunung, bukan puncak gunung. Hal ini belakangan saya ketahui setelah sampai kesana. Saya kira kawah ratu adalah puncak. Ternyata bukan. Kawah Ratu adalah tujuan pendakian kami. Tapi bagi saya Kawah Ratu tetaplah puncak, puncak bagi kami para fasilkitator yang melakukan pendakian.

Dari arah gerbang pendakian, kami melalui jalan pendakian berbatu. Saat baru mulai saja sudah terlihat bahwa jalur yang kami lalui ini akan menembus hutan huajn tropis yang masih rapat. Kanan kiri kami dikelilingi pohon pinus, salak, cokelat dan lain sebagainya. Tak jarang kami melewati sungai kecil yang dangkal yang mengharuskan kami sedikit basah-basahan. Alhamdulillah, selama pendakian kami mendapat banyak bonus berupa jalanan landai. Kami pun tidak khawatir kehabisan air karena aliran sungai sepanjang perjalanan dapat dijadikan sumber air saat haus. Walau terdapat tanjakan, namun tanjakannya tidak begitu curam, masih bisa kami lewati. Mendekati pertengahan jalur kami berpapasan dengan beberapa anak SMA yang camping di sebelah camping ground kami. Sejak jam empat pagi mereka memang sudah memulai pendakian. Sehingga saat kami baru akan mencapai pertengahan jalur mereka sudah dalam perjalanan turun.

Setelah kurang lebih dua jam perjalanan, kami sampai di tengah-tengah pendakian. Salah satu teman kami mengalami kecelakaan. Ia terjatuh dua kali, dan saat ia jatuh untuk yang kedua kalinya ashmanya kambuh. Ia tidak bisa bernapas, dan sempat pingsan. Hal ini sempat membuat kami panik. Kami beristirahat sebentar di sana sambil menunggu kondisi teman kami pulih. Tapi rupanya Alloh berkehendak lain. Sampai saatnya kami harus melanjutkan perjalanan teman kami itu tidak bisa melanjutkan perjalanan. Sempat terjadi sedikit drama antar teman fasilitator. Tapi untungnya kami terbiasa dengan drama semacam itu sehingga tidak mengganggu fokus kami untuk melanjutkan perjalanan. Bukannya kami tidak peduli, tapi adakalanya suatu peristiwa memang harus terjadi sebagai bahan pelajaran untuk diambil hikmahnya. Saat itu saya berpikir, akan ada cerita , akan ada hikmah yang dapat dijadikan motivasi dari kejadian ini.

Setelah kami melanjutkan perjalanan, jalur yang dilalui alhamdulillah bisa kami lewati tanpa suatu halangan. Walau sempat terjadi beberapa kali hujan gerimis, tiba-tiba panas terik, mendung, gelap, berkabut lalu terang lagi, kami akhirnya sampai di Kawah Mati. Kawah mati ini adalah kawah yang sudah tidak aktif lagi. Dapat dilihat daerah sekitar kawah mati tersebut seperti namanya, mati. Tumbuhan menghitam seperti terbakar, tanah ke abu-abuan. Air sungai mengalir putih keabuan bekas vuilkanik dan belerang. Yang uniknya adalah, di tengah tengah ekosistem yang mati masih tumbuh beberapa lumut yang sangat hijau. MasyaAlloh sangat indah. Memang sangat kontras kelihatannya, tapi inilah kebesaran Alloh. Karena handpone dikumpulkan sejak awal acara, kami para peserta tidak sempat mengambil dokumentasi diri(baca: selfie). Jadi saat di kawah mati ini panitia memberi kelonggoran dengan boleh mengambil dokumentasi dengan meminjam HP milik Panitia. Saat itulah saya sadar, saya bisa sampai sejauh ini karena saya tidak memegang gadget. Mungkin bila saya memegang gadget saya adalah orang yang paling terakhir akan sampai, mengingat saya selalu gatal mengabadikan segala sesuatu dengan kamera hp saya.

Setelah puas berfoto ria, perjalanan kami lanjutkan kembali. Inilah tahap-tahap yang mendebarkan. Jarak antara kawah mati menuju kawah ratu sekitar 1km lagi. Asap sudah terlihat membumbung. Tapi jalur pendakian rupanya lumayan terjal. Saya tidak berhenti berkomat-kamit saat mendaki. Karena jalur pendakian ini cukup curam. Tetapi setelah melewati jalur ini alhamdulillah banyak jalur landai yang kami dapati. Yang berkesan bagi saya adalah, saat saya memasuki jalur pintu ke Kawah Ratu.  Mungkin sekitar 200 meter ke kawah. Saya melihat pepohonan di sekitar yang mati. Hitam seperti arah, bahkan ada sebagian yang berwarna abu-abu tanpa daun. Saat itulah saya melihat sebuah bunga yang indah. Bunga yang membuat jantung saya berdegup kencang. Bunga yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Bunga itu sederhana, tapi warnanya sangat mengagumkan. Warnanya jingga. Jingga terang, seperti baju seragam yang diberikan oleh sekolah. Seumur hidup saya belum pernah lihat bunga ini, namanya saja saya tidak tahu. Belakangan saya tahu bunga itu adalah bunga Lily Orange. Bunga ini dilambangkan sebagai ketulusan dan pengabdian. Rasanya perasaan hati saat tahu tentang makna bunga itu campur aduk rasanya. Saya bukannya sedang mendramatisir hal ini, tapi setelah kegalauan yang dilalui (yang saya tahu bukan Cuma saya yang merasakan hal ini) kepercayaaan yang diuji, keyakinan yang hampir goyah, Alloh mempertemukan saya dengan bunga ini mungkin sebagai pengingat untuk saya. Teringat saat itu tentang salah satu ayat alqur-an, “Segala puji bagi Alloh, Dia akan memperlihatkan kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lali dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Naml). Mungkin lewat perantara bunga ini Alloh berniat meneguhkan hati saya pada jalan yang telah saya pilih bersama Jingga.

Setelah melewati bunga tersebut, kami harus melewati jalur curam sekali lagi. Tapi kali ini jalur curam itu mengarah ke bawah, bukan ke atas. Setelah itu akhirnnya kami sampai pada Kawah Ratu. Alhamdulillah, saya diberi kesempatan oleh Alloh untuk bisa menyaksikan salah satu kebesaranNya. Itu adalah pertama kalinya saya menyaksikan sungai mendidih dengan penuh kepulan asap. Sebelumnya saya pernah menyaksikan sungai yang meletup-letup di telaga warna, tapi tidak seperti ini. Kami menyempatkan diri untuk berfoto ria mengabadikan keberadaan kami di sana. Duduk-duduk sambil mengunyah bekal cokelat seadanya. ohya, saya lupa menceritakan bahwa teman kami yang sempat terjatuh di tengah perjalanan akhirnya tidak dapat melanjutkan perjalanan dan harus turun ke bawah. Ia ditemani oleh ketua kelompok kami, adiknya, dan Pak Firdaus selaku penanggung jawab p3k.  Hal yang ironi saat itu adalah, bekal makan siang yang kami bawa berada di tas ketua kelompok kami, bu Santi. Tapi karena ia harus turun ke bawah, maka kami harus menahan lapar dan harus bersabar dengan berbagi cokelat (sekalian curcol ini ceritanya.. hehehe)

Sayangnya, kami tidak bisa berlama-lama di Kawah Ratu. Asap belerangnya sangat beracun. Bahkan beberapa teman yang sudah sampai di pintu pun banyak yang tidak berani tureun sampai ke bawah dan hanya puas menyaksikan dari jauh. Kami lalu melanjutkan perjalanan berikutnya untuk turun kembali ke Camping Ground. Saat perjalanan turun ini Saya berada di tim paling depan. Secara tidak sadar sebenarnya kami telah membagi tugas untuk saling menjaga dan mensuport beberapa kawan yang kami khawatirkan. Contohnya saja bu Nur yang selalu bersama Bu Teti. Bu Okta walaupun tidak sekelompok dengan Bu Shinta tapi sengaja berada di barisan belakang untuk bersama beliau. Sedangkan saya, saya mengawali Bu Siti Sarah. Sejak sebelum pendakian, bu Siti Sarah sempat mengatakan bahwa ia tidak bisa berjalan jauh. Jadi kami memprioritaskan beliau untuk berjalan di barisann depan. Perjalanan turun berbeda dengan perjalanan naik. Perjalanan turun kali ini saya rasakan auranya lebih santai ketimbang saat naik. Tapi rupanya baru seperempat perjalanan saya tidak bisa santai lagi. Karena harus mengawal bu Siti Sarah yang rupanya kuat berjalan stanpa beristirahat sampai di bawah(serius...., saya aja heran). Lewat pertengahan jalan kami bertemu pendaki lain yang mendirikan tenda di samping jalur pendakian. Pemandu kami memutuskan untuk menunggu rombongan lain. Saat itu kondisinya saya sedang menahan keinginan buang air kecil dan Sendal bu Siti Sarah lepas. Mau tidak mau saya menuruti keinginan bu Siti Sarah untuk melanjutkan perjalanan hanya berdua saja tanpa pemandu. Pemandu membiarkan kami dengan memberi intruksi jika kami ragu dnegan jalan yang akan dilalui kami cukup berhenti.disinilah mulai terjadi beberapa hal yang lucu.

Sejak kami berpisah dengan pemandu kami beberapa kali berhenti untuk memilih jalan. Ada beberapa cabang jalan yang memang harus kami pilih. Tapi karena jalurnya lurus sejak kami mendaki kami belum menemui kesulitan. Sampai pada saat saya akhirnya harus berhenti untuk beristirahat sedangkan bu Sarah yang berada di depan saya terus berjalan karena saya tidak memberi tahu bahwa saya ingin beristirahat. Saya terus menyaksikan bu Siti Sarah dari jauh sampai hampir tidak terlihat karena akan melalui persimpangan lagi. Saat itulah saya mengejar bu Siti Sarah. Saat mengetahui saya berjalan agak terburu-buru di belakangnya, diamenoleh ke belakang. dia meenanyakan kepada saya untuk memilih jalan. Saya mengikuti i9nsting saya untuk memilih jalan yang bagian kiri berhubung sebelah kanan adalah sungai. Hal yang lucu terfjadi, bu Siti Sarah menanyakan suatu pertanyaan yang smapai saat ini jika saya mengingatnya saya akan tertawa. “Ini Bu Erna beneran kan?” saya lantas tertawa spontan. Saya menjawab,”Bukan, ini bukan bu Erna,”. Rupanya sebelum dia mendaki dia sempat mendengar beberapa cerita tentang setan gunug yang akan menyamar menjadi teman kita untuk emberi arah yang salah. Tidak lama setelah itu pemandu kami menyusul, rupanya kelompok lain belum muncul juga. Dan ia juga mengkhawatirkan kami yang hanya berdua.

Semakin dekat dengan arena camping kami melewati Curug Sembunyi. Saya bartanya kepada pemandu apakah ada air terjun disitu. Pemandu mengatakan emmabg disitu ada air terjunnya. Kami sepakat untuk menunggu kelompok lain disitu. Saya memuasakan keinginan untuk berenang tepat di bawah air terjun. Karena airnya sangat dingin, saya tidak berlama-lama disitu lalu melanjutkan perjalanan. Pukul dua siang kami sampai di camping Ground. Saya langsung mandi, berganti baju lalu solat zuhur dan asyar dengan menjamak.

Sambil menunggu teman-teman lain yang belum tiba, saya memasak nasi dan makan cemilan seadanya. mendekati waktu magrib barulah satu persatu teman-teman datang mengakhiri pendakiannya. Tidak ada intruksi saat itu, kami secara mandiri mempersiapkan diri untuk solat magrib, lalu makan malam. Pak Firdaus terlihat menyiapkan kayu untuk api unggun.

Setelah salat magrib dan makan bersama, acara dilanjutkan dengan bercengkrama mengelilingi api unggun. Pak Isnan selaku penanggungjawab memimpin acara ini. Kami secara bergantian menyampaikan kesan-kesan dan hikmah yang dapat kami petik dari kegiatan pendakian hari ini. Saya pribadi lumayan menahan diri dan banyak merenung saat pendakian. Pak Isnan menyebutkan saya kalem hari ini. Dalam hati saya berdoa semoga kalemnya bisa seterusnya ya pak, namanya juga usaha. (hehehe.) Malam kami tutup dengan beristirahat.

Esok harinya seperti biasa kami bangun untuk melaksanakn solat lail, lalu bersiap solat subuh berjamaah. Setelah itu memasak dan sarapan bersama. Tidak ada apel penutupan, kami hanya berkumpul sambil mendengarkan beberapa insight dari Pak Isnan. Acara ditutup. Tenda-tenda dibereskan, Carier kembali penuh dnegan baju-baju. Ritual selanjutnya adalah foto-foto. Perjalanan pulang berlangsung lancar tanpa hambatan. Saya memuaskan hasrat untuk makan soto mie bogor sebelum pulang. Beberapa teman yang ngebet ingin makan nasi padang p[un menunaikan keinginannya. Pengalaman Recognition tahun ini luar biasa. Semoga kami bisa mengambil insight, hikmah, dan pelajaran dari kegiatan ini. Semoga kami semua dapat berubah menjadi lebih baik. Semoga kita semua bisa mengikuti Recognition berikutnya. Dengan tempat yang lebih menantang dan acara yang lebih menarik.

Sekian.


Senin, 19 Desember 2016

-Self Oriented-

#Ernatalk

Bismillah.

Heran deh, ada yah manusia yang egoisnya sebegitunya. Kalau dinasehatin selalu pake tameng "saya kan emang begitu orangnya". Seakan2 semua orang disuruh ngertiin dia, terus kapan kamu mau ngertiin orang lain?

Dulu saya juga pernah begitu, saya sebut itu masa2 gelap, narsistik, masa jahiliyah. Tiap ada orang yang ngritik selalu aja gak terima, merasa selalu di salah2in.

But, masak iya kita mau kayak gitu terus, ingat umur donk.. Malu sama angka.. Kesadaran itu jangan ditunggu, hidayah itu jangan dinanti, tapi dicari, dijemput.. Karena hidayah layaknya rejeki, MANJA, pengennya dijemput.

Kita bukanlah pusat bumi. Dimana semua orang harus merhatiin kita, harus mendengarkan keluh kesah kita, harus memperhatikan keberatan kita, harus memaklumi kesalahan kita, dimana orang lain selalu dipihak yang harus bertanggung jawab atas segalanya.

Alloh bikin otak kita berbeda dengan makhluk Alloh yang lain, because memang kita makhluk Alloh yang sempurna. Yang bisa berpikir, yang bisa memilih, mana yang benar mana yang salah. Mana yang pantas, mana yang tidak pantas. Kapan kita harus diam, kapan kita harus marah, dan kapan kita harus meminta maaf.

Jadi orang kepalanya jangan keras kayak batu, perasaannya dipake, biar gak emosian, biar tahu apa yang dirasakan orang lain, biar gak maunya dingertiin melulu, sekali sekali mbok yo ngertiin orang lain juga.

Saya pernah bikin postingan tentang salah dan benar. Bahwa sebenarnya gak ada itu yang namanya salah dan yang namanya benar. Yang ada hanyalah masalah sudut pandang (Scroll ke bawah deh.. Ada tu postingan).  Saat kita merasa benar dan menganggap orang lain salah jangan lupa bahwa orang lainpun bisa saja merasa benar dan menganggap kamu salah. Saat kamu merasa disakiti jangan lupa bahwa bisa saja pihak lain juga merasa terzalimi. Sekali lagi, ini masalah sudut pandang.

So please, grow up!!! Dont be childish. Kalau ada orang yang ngasih saran itu dengarkan. Jangan masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Jangan nyaut melulu. Jangan merasa benar melulu, jangan merasa bahwa kamu orang yang paling dirugikan, jangan merasa bahwa kamu orang yang selalu disalahkan. It is not good.

Saya berani ngomong seperti ini karena saya pernah melalui itu semua. Siapa saya? Saya adalah -The Queen Of Drama-. Siapa saja yang berurusan dengan saya akan selalu saya anggap pelaku dan saya selalu mgganggap diri saya korban. But it is the past. Itu dulu. Sebelum saya sadar. Bahwa jadi Ratu Drama itu melelahkan. Dan itu tidak adil untuk orang lain.

Kalau memang kamu orangnya begitu, ya kamu harus paham bahwa orang lain memang begitu juga. Jadi siapa yang waras? Yang waras ya harus mengalah. Kalau ada konfrontasi or konflik or masalah maka hadapilah dengan gentle. Kalau salah ya ngaku salah. Kalau benar, ya tunjukkan kalau benar. Ngotot dan ngambek itu gak menyelesaikan masalah.

Dewasalah saat menghadapi segala sesuatu. Biasakan mendengar sebelum berbicara, biasakan diam dan berpikir sebelum memgambil keputusan. Jangan grusa grusu, terus ntar kalau nabrak kembali lagi: Saya kan emang orangnya begini, kamu harus ngertiin donk. PLAKkkk.. Tak tampar lambemu nanti!

Well..
Menuliskan ini cukup menguras emosi saya. Saya bukan orang yang sempurna, tapi saya belajar. Maaf jika ada yang tersinggung, memang itu tujuan saya (Ehhhh.... 😆). Saya dulu juga sama seperti anda, tapi saya mau diam sejenak, mendengarkan, berpikir, dan memahami. Saya mencoba menjadi lebih baik. Berubahlah sebelum terlambat. Sebelum kamu merasa semua orang kamu anggap musuh.

Stay cool, and keep Istiqamah.

Berubah!!!
Karena yang boleh egois itu cuma anak bayi yang belum ngerti apa-apa!!!

Maafkan kalau ada bahasa inggris yang salah, itu unsur kesengajaan. Hahaha.

Wassalam.


Rabu, 16 September 2015

Jingga, i'm in love....

Bismillah...

Apa kabar?
Semoga masih senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan oleh Sang Maha. Serta selalu diberi keistiqamahan untuk selalu mengunjungi blog ini walaupun jarang diupdate (apaan sih ini, hehehe)

Well, alhamdulillah, genap sudah 4bulan saya hijrah meninggalkan kota Jayapura tercinta. Episode tentang tarik ulur memesan tiket, nangis bombay berantem sama mama, ngumpet di kamar seharian, sampai saat tiba di Curug menghadapi home sick, bingung mau ngapain, semua sudah dilewati...

Well, cerita di balik hijrahku yang mendadak itu nanti akan kuceritakan di episode yang berbeda. Kali ini aku akan bercerita tentang jatuh bangunku (lebay deh....) move on dari Jayapura dan menyempurnakan momentum hijrahku ... :)

Menjelang puasa ramadhan kemarin, kegalauan dan kegundahan datang. Bukan karena apa-apa. Tapi karena aku mulai bosan di rumah. Kepindahanku yang mendadak itu mewajibkanku mengumpulkan teman baru, mencari komunitas baru, pekerjaan baru, dan bahkan rekening baru. {Oke masalah rekening kita bahas di episode HIJRAH}

Memanfaatkan momentum hijrahku, aku mencoba mencari "saudara" yang akan membantu memperlancar proses hijrahku ini. Secara tak sengaja, ada seorang followers, kami saling meretweet. Aku selalu kepo pada orang2 yang mau menjadi folowersku. Bukan apa, hanya sekedar mengecek profile yang memberikan sedikit gambaran latar belakang orang tersebut. Lewat beliaulah aku akhirnya mengetahui tentang sebuah sekolah alam bernama Jingga. Kebetulan saat itu aku memang sedang mencari kesibukan. Jadilah aku mulai searching soal Jingga itu.

Sekolah alam, bukan isu baru. Aku pernah menonton liputannya beberapa kali di TV. Pernah membaca beberapa kali di berbagai blog. Sekolah alam adalah sebuah konsep sekolah yang mendasarkan sumber, pengalaman, alat, bahan, dan tempat belajarnya dari alam.

Tapi sekolah alam yang ini berbeda, entah mengapa melihat anak-anak kecil tersenyum sumringah di berbagai foto dokumentasi di blog tersebut membuatku jatuh cinta. Mengapa mereka sebahagia itu di Jingga? Mengapa belajar kelihatannya sangat menyenangkan disana?

Kegiatan sekolah mereka tentunya sangat berbeda dengan sekolah lainnya. Walaupun pasti ada beberapa kesamaan dengan sekolah alam lainnya. Tempat belajar mereka yang hanya beratap rumbia, anak2 kecil lucu berlarian menggunakan sepatu bot bermain dengan tanah tanpa seragam sekolah. Tetapi lebih daripada itu, yang membuat saya klepek2 jatuh cinta adalah saat akhirnya tau apa makna JINGGA sesungguhnya.

Jingga, bermakna Jamaah inginkan surga. Jamaah yang bersama bahu membahu belajar untuk menjadi pribadi yang baik, santun, dan saling memotivasi agar menjadi semakin lebih baik dan lebih bak lagi.

Saat itu jugalah saya langsung mengontak beliau menanyakan, apakah masih ada lowongan untuk bergabung di Jingga? Dan alhamdulillah.... masih ada!

Saat itu, jujur.. saya tidak berniat bekerja, tidak. Saat itu yang ada dalam pikiran saya adalah saya ingin belajar. Karena motto saya manusia itu harus selalu bermanfaat bagi orang lain. Belajar saya adalah untuk mengajarkan kembali. Dan mengajar saya adalah untuk belajar saya juga.

Sempat sedih saat konfirmasi tes dan waktu wawancara ternyata tidak bisa saya penuhi. Saat itu dalam hati saya katakan, jika Alloh memutuskan Jingga dalam takdir saya, maka Akan ada jalannya. Dan Alhamdulillah, esoknya saya dipanggil lagi dengan rescheddule waktu tes dan wawancara.

Saya ingat benar, saya sampai mencari kontak teman saya di Bekasi @anggiwidhi demi tak nyasar saat sampai disana. Alhamdulillah, di twitter juga banyak yang memberi tahu arah dan jalan. Jingga berada dekat kantor kelurahan. Dengan nekat menggunakan ojek saya sampai disana.

Pertama kali melihat saung2 cokelat, pohon gersen (kalau di Bekasi mereka menyebutnya pohon ceri), dinding aula yang penuh dengan koran, seorang ibu berjilbab rapi (yang belakangan saya tahu itu adalah bunda Febi, yang sekarang sudah saya anggap sepihak sebagai ibu saya di Bekasi :D), saat itu pulalah azzam di dada semakin menggebu. Ini adalah Rumah. Ini adalah tempat saya. Bismillah, ya Rabb, mudahkan.. berilah petunjuk. Saat itu doa dalam hati saya. Karena saya tahu, Alloh pernah berfirman dalam kitabNya, yang saya lupa surat dan ayat berapa, Mungkin saja kau anggap sesuatu itu baik untukmu tapi ternyata buruk bagimu, Alloh lebih mengetahui mana yang baik untukmu. Kurang lebih begitu.

Alhamdulillah, tes pertama saya lakukan. Saya ingat sekali, saat itu saya diminta menggambar pohon berkayu selain pohon kelapa. Lalu saya diminta menggambar seorang wanita dan memberikan kelebihan dan kekurangannya. Dalam hati saya, ini namanya tes psikologi melalui gambar. Hehe, sok tau saya.

Setelah itu saya dipanggil ke sebuah ruangan, rupanya itu adalah ruangan kantor untuk kepala sekolah dan pejabat (ce ileh.... hehe) sekolah. Di sana saya bertemu dengan beberapa orang. Beberapa menit setelah bincang2 ada seorang bapak muda (iya pak, masih muda kok pak :D) yang masuk ke dalam ruangan. Ternyata beliau adalah ketua yayasan. Beliau hanya menanyakan satu pertanyaan kepada saya, tapi untuk menjawabnya saya harus bersusahpayah menahan airmata walaupun akhirnya saya sukses nangis bombay di depan semuanya. Saya ingat saat itu beliau menanyakan, mengapa anda ingin mengajar di Jingga. Jawaban saya sangat singkat, karena saya merasa Jingga adalah rumah saya.

Setelah tes dan wawancara itu apakah saya langsung diterima? Tidak semudah itu. Sekali lagi ujian datang. Saat itu saya sebenarnya terlanjur menerima tawaran mengajar di sebuah smp negeri di kelap dua Tangerang. Karena terus terang, saya bosan di rumah dan tidak memiliki kegiatan apa-apa. Kondisi tersebut sebenarnya menjadi halangan saya karena Jingga meminta saya dan para calon fasilitator lainnya untuk full di sana.

Sekali lagi saya berkata dalam hati, yaa Rabb, mudahkan jalanku, berikan solusinya jika memang Kau meridhoi Jingga ada dalam cerita hidupku (bahasanya kagak kuat.... hehe)...

Saya sampai nangis bombay lagi, apapun jalannya saya pengen di Jingga... apapunnnn..... kalau benar Jinnga baik untuk hamba, berikanlah jalan... jika tidak, pisahkanlah kami sampai di sini. (Hikssss)

Saya shalat istikharah. Mohon petunjuk. Jawaban tak jua datang. Sampai hari saat akhirnya saya diminta bertemu Rifky sama bunda Feby. Siapa Rifky? Rifky lah jawaban saya. Rifky adalah anak cerdas yang memiliki sebuah keistimewaan. Dia berbeda dengan anak lain. Saat bertemu dengannya terbayang lah sudah apa saja yang akan kami lakukan berdua. Setelah bertemu Rifky, bunda Feby mengajak saya berbicara.

Kondisi saya tidak memungkinkan untuk mengajar di kelas seperti guru lainnya. Kondisi saya yang khusus ini cocok dengan kondisi Rifky yang khusus juga. Bu Feby menawarkan saya untuk menjadi fasilitator HE. Home Education (Home schooling) untuk Rifky dan seorang anak lagi yang belakangan saya tau namanya Irhas.

Alhamdulillah, qodar Alloh. Bismillah saya terima....

Mengajar di Jingga bagiku adalah awal aku menemukan rumah, awal aku menemukan kelurga, awal aku belajar untuk mengajar dan awal aku mengajar untuk belajar. Saya merasa di Jingga bukan hanya murid2 yang belajar, tapi saya juga belajar. Bukan hanya Rifky dan Irhas yang teraphy tetapi Jingga juga theraphy untuk saya. Beberapa bulan telah berlalu, saya selalu berdoa semoga Alloh memanjangkan jodoh saya bersama Jingga lebih lama. Semoga Alloh senantiasa memberikan kesehatan agar saya selalu kuat menempuh perjalanan 4jam Curug-Bekasi tiap minggunya. Jingga is my home, Jingga is my teacher, Jingga i'm in Love....

Terimakasih Alloh, sudah mempertemukan dan menjodohkanku dengan Jingga.... :)

Sabtu, 05 September 2015

Tangis Subuh

AdzanMu sudah terdengar memanggil-manggil di sudut surau...

Aku masih terduduk kosong di atas sajadah, menangisi entah apa, menengadahkan tangan, berharap walau entah apa yang diharapkan.

Subuh ini menjadi saksi kepasrahanku, subuh ini menjadi saksi kepayahanku, subuh ini menjadi saksi kelelahanku..

Sungguh, hanya kepadaMu aku berkeluh kesah, hanya diriMu satu-satunya tempat bersandar, hanya diriMu satu-satunya tempat aku bersimpuh memohon pertolongan..

Rabb, kabulkanlah setiap permohonan....

Kamis, 09 Juli 2015

Different… Not Less!

Bismillah,

Setelah sekian lama tenggelam dalam kesibukan dunia yang tak berujung akhirnya saya bisa menulis lagi. Well, sebenarnya tangan ini udah gak sabar pengen ngebelai-belai si Axioo yang udah lama gak dipake buat ngetik. Tapi Qodar Alloh, si Axioo drop kondisi badannya sejak sampai di Curug. Setiap kepanasan ia akan mati sendiri dan gak akan bisa nyala lagi sebelum tubuhnya dingin. Hiks, emang kayaknya udah waktunya pensiun itu si Axioo.

Well, sekian lah basa-basinya. Baca judul di atas pasti bertanya-tanya.

Different, not less .

Berbeda, tidak berkekurangan.


Kalimat ini saya temui pada film Temple Grandin dan  kalimat ini sukses menancap dalam pikiran saya setelah menonton sebuah film biografi milik Temple  Grandin. Temple Grandin adalah seorang Autism. Dalam filmnya diceritakan tentang perjalalanan hidupnya yang sangat inspiratif. Temple Grandin lahir di Boston, Massachusetts pada 29 Agustus 1947. Sebelum didiagnosis mengidap autis pada 1950, awalnya Grandin didiagnosis mengidap kerusakan otak ketika berusia dua tahun.  Ia tidak dapat berbicara sampai umurnya menginjak 4tahun. Saat inilah akhirnya ia didiagnosa terkena autisme.

Film ini menjabarkan tentang bagaimana cara berpikir Temple Granden yang seorang Autism. Ia melihat hal-hal disekitarnya dengan cara yang berbeda. Orang-orang disekitarnya tidak dapat mengerti apa yang ia pikirkan. Sebagai pendidik yang menarik bagi saya adalah bagaimana orang-orang terdekat Temple berperan banyak dalam pendidikannya.

Autism adalah istilah yang merujuk pada sekumpulan gangguan perkembangan yang mempengaruhi otak. Gangguan pada otak ini mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berkomunikasi, menjalin hubungan dengan orang lain, dan merespon dunia luar dengan baik.

Seperti dalam film, para Autism sering disalahpahami, dan dianggap sibuk dengan dunianya sendiri. Mereka gemar melakukan hal-hal yang absurd secara berulang-ulang, dan sering mengalami serangan kecemasan.

Seperti yang di alami Temple yang digambarkan dalam film, Ia sering memperhatikan hal-hal yang tidak banyak dipedulikan orang dan membayangkan hal kompleks hanya dengan memperhatikan sesuatu yang sederhana. Contohnya saja saat ia mengulangi berkali-kali membuka dan menutup pintu gerbang. Ternyata saat itu ia menghitung kecepatan laju gerak pagar, dan bagaimana caranya agar pagar tersebut bisa terbuka tanpa perlu ada yang repot-repot mendorongnya. Dari hal yang sederhana itu ia dapat menciptakan alat baru yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain membuatnya.
Yang perlu kita lakukan saat menghadapi mereka di saat seperti ini adalah mengikuti dan membiarkan mereka mengekspresikan apa yang mereka pikirkan seperti yang dilakukan bibi dan ibu Temple.

Menghadapi seorang Autism haruslah penuh kesabaran. Dalam film ini diperlihatkan bagaimana Ibu Temple yang sangat sabar terus menerus mendampingi dan memotivasi Temple dan tidak membedakannya seakan-akan ia bukan seorang Autism. Ternyata hal ini berpengaruh baik padanya. Walaupun dengan segala perbedaan yang ia punya, Temple dapat berinteraksi dengan orang lain, dan dapat berkomunikasi dengan baik. Berbeda dengan situasi Temple, kebanyakan orangtua para Autism terlalu memanjakan anak-anaknya. Hal ini menyebabkan mereka lebih rentan.

Selain keluarga, guru pun memegang peranan penting dalam pendidikan seorang anak Autism. Seperti halnya Temple. Beruntungnya ia memiliki guru yang sangat memahami pola pikirnya, Dr. Carlock. Di sekolahnya Temple dianggap bodoh karena tidak dapat menghitung aljabar dan tidak bisa mempelajari bahasa. Dr. Carlock inilah yang membantu membuat semua teman-teman gurunya paham bahwa Temple tidak bodoh, ia hanya berpikir dengan cara yang berbeda. Temple yang memiliki pola pikir secara Visual tentu saja tidak dapat memahami hal-hal yang sulit digambarkan seperti bahasa dan matematika. Untuk itulah pentingnya guru sebagai fasilitator mendampingi, memahami, dan membantu kebutuhan mereka yang berbeda dari anak-anak lainnya. 

Pada akhirnya, kombinasi pendidikan yang baik antara orangtua dan guru diperlukan untuk mencapai keberhasilan anak Autism. Karena sesungguhnya seperti apapun kondisi mereka, mereka memiliki hak untuk mendapat pendidikan.


يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ............
Artinya :”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan.”(QS.Al-Mujadalah:11)
 
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ -
خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ -
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ -
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ -
عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ -

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(Al-Alaq

Sekali lagi mereka hanya berbeda, bukan memiliki kekurangan. 


nduk'NHA

Senin, 02 Maret 2015

DRAMA

Butuh sedikit waktu untuk pulih saat melihat foto-foto itu ditayangkan ceria di hadapanku.
Gemerlap baju pengantin, megahnya resepsi, sucinya akad dengan menggunakan bahasa surga,
Kau, ada di sana, dengan senyum terbaik,
Aku berkedip, lalu melihat sekali lagi..
Ini bukan mimpi...

Entah lah... aku kagum, iri, sedih, cemburu di saat bersamaan....
Hati ini tahu kalau luka yang dulu pernah ada sedang pedih karena tersiram cuka,
tapi mata ini tidak menitikkan airmata sama sekali...
Mungkin kau bertanya, mengapa?
Mungkin karena aku sudah memepersiapkan hal ini sejak kita bertemu...

Cermin, adalah musuh sekaligus teman terbaik untuk mengevaluasi diri.
Drama adalah kata yang aku gambarkan untuk cerita ini.
Cerita yang akhirnya selesai dengan ujung bahagia untukmu, dan kepastian untukku.

aku hanya bersyukur bahwa hari ini akhirnya aku bisa dengan tenang menutup buku dan benar2 memulai sesuatu yang baru, buku baru, lembaran baru, kisah yang baru semoga dengan tokoh yang lebih baik darimu.

Tidak ada sumpah serapah, tidak ada tangis tragis, hanya ada sebuah lubang besar di sana di tempat yang pernah kau sentuh. Lubang itu mungkin tidak akan pernah tertutup, akan tetap kosong seumur hidup. Tapi lambat laun semoga waktu bisa mengisinya dengan harapan melalui doa-doa yang tak pernah putus dari bibirku.

Ini akhir dari sebuah drama, semoga drama terakhir yang pernah aku mainkan.
Semoga bahagia untukmu.

Kamis, 01 Januari 2015

#2015

Langit penuh warna - warni,
Kamuflase,
Melenyapkan pandangan dari lautan hitam di balik kembang api,
Milyaran uang dibuang sebagai simbol dari "Tahun baru"
Mereka berteriak harapan tanpa tahu apa itu,


nduk'NHA

Rabu, 14 Agustus 2013

Hati yang tertutup




(photo credit: a ocoy, edited by Atviana, Location: Cologne ; Jerman, Brilliant idea of sev's word: Me)

















"Ada sebuah ruang yang sudah lama kututup,
Dan apapun yang terjadi ruang itu akan tetap begitu."
@ndukNHA

Waena, 14 Agustus 2013


Rabu, 07 Agustus 2013

Happy Ied Mubarok...


BISMILLAH,
MAY ALLOH ACCEPT YOUR GOOD DEEDS ;
FORGIVE YOUR TRANSGRESSIONS ;
AND EASE YOUR WORDLY SUFFERINGS ;
WISH YOU A VERY JOYOUS AND PEACEFUL EID
^_^

Selasa, 30 Juli 2013

Begitu Salah, Begitu Benar

" Jangan pernah takut salah, tapi takutlah jika terus-menerus salah. Karena itu berarti kau tidak pernah belajar." @ndukNHA


Assalamualikum Dear...
Sudah lama Erna tidak mengoceh yah... ^^/
Apa kabar semua?
Semoga selalu diberikan kesehatan, kelimpahan rejeki, dan kesempurnaan iman.. :D
Aamiiinn...

Well dear,
beberapa hari ni Nha agak galau..
Ceritanya kemaren Nha ditegur oleh seorang teman, soal sikap Nha yang katanya "tidak pantas".
Jadi Nha ini bisa dibilang lumayan rumit posisinya, orang yang banyak disorot dan diperhatikan..
Sikap "tidak pantas" itu jujur aja gak sadar Nha lakukan, tapi Nha g mengelak kalau itu memang disengaja.
Dan ternyata itu jadi bumerang untuk Nha..

Mungkin teman2 tau,
Nha ini sedang dalam masa transisi..
Benar-benar belajar dari awal untuk bergaul, berbicara, bertingkahlaku, singkatnya Nha ini sedang benar-benar belajar jadi orang baik.
Nha bukan galau karena merasa disalahkan, karena Nha mengakui memang  Nha salah..
Tapi Nha galau karena kesalahan yang terjadi sudah cukup banyak. Tidak berulang, tetapi banyak.
Dan Nha takut mereka-mereka jenuh, bosan, atas semua kesalahan2 itu dan nggak mau peduli lagi sama Nha.

Nha kemaren sempat mewek sendiri pas baca BBM temen Nha, yah.. walaupun Nha ini dibilang STRONG GIRL, tapi Nha bisa cengeng juga... mungin itulah ambang batas kekuatan seorang Nha..
 Nha merenung sendiri, kira-kira apa yang belum sesuai sehingga Nha terus menerus melakukan kesalahan.
Mengapa Nha terus-terusan nggak sadar saat berbuat salah..
Apa hati ini sudah mengeras sehingga nggak peka sama sekitar? Naudzubillah...
Nha sempat menyalahkan diri sendiri... sempat membenci diri sendiri, beberapa saat...
Pokoknya kayak nggak suka banget sm yang namanya ERNA... Padahal Erna itu ya Nha, diri saya sendiri...

Sampai saya ingat Display Picture bbm yang sering saya pakai yaitu gambar screenshoot dari memo saya yang tulisannya seperti ini:

"Jika manusia menyalahkan orang lain dia harus belajar, jika manusia mulai menyalahkan dirinya sendiri dia mulai belajar, jika manusia tidak menyalahkan siapa-siapa lagi maka pembelajaran telah usai"

Nah disinilah Nha sadar... bahwa sekarang ini Nha memang benar-benar dalam proses belajar...Satu hal positive yang membahagiakan, bahwa ternyata Nha masih punya naruni yang takut menyalahi sesuatu yang berakibat menyakiti orang lain..

Setelah sempat down beberapa saat akhirnya Nha bangkit lagi...
Nha sadar kalau Nha memang hanya manusia, yang walaupun mencoba untuk terus menerus berbuat baik tapi masih bisa salah juga... itu tanda bahwa usaha Nha untuk menjadi lebih baik belumlah maksimal... Dan Nha harus bersyukur masih diperlihatkan kesalahan untuk mendapatkan kebenaran.. dan masih diberikan kesempatan untuk terus memperbaiki diri..

Dan akhirnya Nha sadar juga, bahwa dalam proses mengubah diri sendiri menjadi lebih baik, akan banyak orang yang terus menerus memperlihatkan kesalahan kita. Yang perlu kita pahami, apapun yang membuat kita menjadi baik itu berarti baik. Tak usah kita risaukan kritikan, tak usah kita tangisi penyesalan, teruslah berusaha agar bisa menjadi semakin lebih baik dan lebih baik lagi. Bukankah kupu-kupu melalui proses menyakitkan menjadi kepompong menjijikkan sebelum ia dapat terbang dan menjadi cantik.?

Nah..
ternyata sesimple itu,
salah ada karena salah menunjukkan mana yang benar. mungkin bisa disebutkan bahwa sebenarnya benar dan salah itu adalah Rectoverso.. Saling melengkapi..
Jangan kau tanya Rectoverso apa, Nha hanya kebetulan membaca kata itu di salah satu buku pegantar tidur yang kemaren sempat Nha baca..
Kurang lebihnya Rectoverso itu seperti sesuatu yang saling mengisi antarmuka belakang dan depan. Saling melengkapi. contohnya ya seperti salah dan benar tadi, atau hitam dan putih, kalau contoh ini salah dan tak nyambung ya apa boleh buat.. salahkan Dee Lestari yang menginveksi otakku dengan kata-kata asing yang ajaib itu. intinya pokoknya begitulah.

Dan akhirnya, pikiran positivelah yang memang benar-benar bisa menenangkan...
Semoga tak ada lagi kesalahan yang bisa menyakiti, semoga Nha bisa benar-benar semakin lebih baik dari hari ke hari... .

BTW, Puasa sudah tinggal hitungan jari, semoga semuanya lancar hingga nanti.. dan semoga kita semua bisa menemui ramadhan tahun depan lagi...

Always Be Positive ☺

nduk'NHA

Senin, 29 Juli 2013

Berdamai dengan hati

Selamat pagi hati,
Bagaimana kabarmu hari ini?
Setelah semalam kau terus menerus menyesali keadaan dan menangisi kesalahanmu sendiri..
Masih sakitkah rasanya?
Atau sudah kau lupakan?
Yang kutahu lukanya pasti masih memerah dan belum kering seutuhnya dan akan sembuh dalam waktu yang tidak sebentar :)

Dear hatiku,
Aku ingin memberi tahumu tentang sesuatu..
Bahwa kesalahan itu adalah hal paling mudah yang akan dilakukan oleh manusia..
Dan hal itu sudah terjadi sejak jaman nenek moyang kita adam dan hawa..
Dan sudah lumrah bila rasa sakit dan penyesalan akan datang setelah yang namanya kebenaran datang..

Tapi hatiku,
Kesalahan bukan untuk disesali,
Kesalahan bukan untuk ditangisi,
Kesalahan ada untuk kita pelajari,
Agar tidak terus menerus terulang di masadepan nanti..

Hatiku tersayang,
Jangan pernah takut salah,
Karena kesalahan ada agar kau melihat kebenaran..

Yang terbaik dari kesalahan adalah,
Jangan pernah mengulanginya lagi..

Hatiku cintaku,
Mari jangan bersedih lagi..
Tapi berdoalah agar kau tidak melakukannya lagi..
Berusahalah agar kau dapat pelajaran dari hal ini..
Bertekadlah untuk semakin lebih baik dan lebih baik lagi..

Hatiku kasihku,
Mari berdamai dan jangan murung lagi..
Matahari akan senang jika kau tersenyum lagi..

*Dari seseorang yang peduli padamu.. 
AKU☺

nduk'NHA

Sabtu, 27 Juli 2013

Yang terselip dalam ingatan


Hal seperti ini sering terjadi...
Tiba-tiba saja kau mengingat sesuatu yang kau kira sudah kau lupakan...
Saat tak sengaja melirik dompet,
ada senyum hangat penuh cinta disana...
walaupun pada kenyataannya itu sudah sangat lama.. 
Satu hal yang kusuka dari selembar foto di dalam dompet itu
senyum dan cinta itu terbingkai abadi di dalamnya
Dia boleh berubah, tapi foto itu akan tetap begitu  selamanya.
"Foto - tiket nonton - karcis parkir" masih terselip rapi di dalam dompet

nduk'NHA

Senin, 15 Juli 2013

Surat Ke-Tiga

Dear Love, 
Apa kabarmu? 
Ini suratku yang kesekian kalinya...
Coba ku hitung, ini surat yang ketiga...
Percayakah kau sudah lumayan lama aku bertahan dan berusaha selama ini?
3Tahun yang penuh dengan warna..
ada senyum, ada tangis, ada bahagia, dan ada duka..
Tapi kalau boleh aku mengeluh, tangis dan duka lebih sering menemani sebenarnya..
Sampai saat ini aku masih bertanya-tanya...
Kemana gerangan kita akan sampai nantinya?
Mengingat kita bergandengan tangan awalnya,
lalu entah mengapa kau meninggalkanku berjalan sendirian...
dan aku tak tahu... apakah aku akan terus melangkah akhirnya...?

Terkadang kau kembali, menemani, 
sambil bercerita tentang bagaimana awan terlalu putih dan matahari terlalu terik..
tapi saat mendung datang kau tiba2 pergi berlari menepi...
Membiarkanku menggigil kedinginan diterpa hujan sendiri..
Aku tak pernah paham... 
Kau datang dan pergi sesuka hati... 
kau pernah berjanji, kita akan bersama-sama NANTI...
Tapi semakin kesini mengapa semua tampak hanya seperti ilusi?

Dear Love,
Pernahkah kau berpikir jika suatu saat nanti aku akan lelah merasa sepi?
Pernahkah kau berpikir NANTI aku akan bosan sendiri?
Biar ku tebak...
kau selalu berpikir aku akan berada di tempat yang seharusnya NANTI?
entahlah mengapa kau terlalu yakin soal ini...

Dear love,
dimanapun kau berada..
Aku hanya ingin mengabari..
Mungkin sebentar lagi aku akan sampai, 
Aku butuh kau ada di tempat yang sama..
dan kini hanya doa yang bisa aku harap bisa mempertemukan kita..

Waena, 15 Juli 2013
Tahun keTIGA.

 

Erna Cahaya Template by Ipietoon Cute Blog Design