Minggu, 02 Desember 2012

Syarat yang sering diabaikan, Astagfirulloh... (Pakaian yang semestinya engkau pakai saudariku..)

Betapa banyak kita lihat saat ini, wanita-wanita berbusana muslimah, namun masih dalam keadaan ketat. Sungguh kadang hati terasa perih. Apa bedanya penampilan mereka yang berkerudung dengan penampilan wanita lain yang tidak berkerudung jika sama-sama ketatnya[?]
Oleh karena itu, pembahasan kita saat ini adalah mengenai pakaian wanita muslimah yang seharusnya mereka pakai. Pembahasan kali ini adalah lanjutan dari pembahasan "Wanita yang Berpakaian Tetapi Telanjang". Semoga bermanfaat. Hanya Allah lah yang dapat memberi taufik dan hidayah. 

Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya  ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab [33] : 59). Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah memakai khimar. Sedangkan khimar adalah penutup kepala.
Allah Ta’ala juga berfirman,
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur [24] : 31). Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Atho’ bin Abi Robbah, dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan.
Dari tafsiran yang shohih ini terlihat bahwa wajah bukanlah aurat. Jadi, hukum menutup wajah adalah mustahab (dianjurkan). (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Amru Abdul Mun’im, hal. 14)
Syarat Pakaian Wanita yang Harus Diperhatikan
Pakaian wanita yang benar dan sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya memiliki syarat-syarat. Jadi belum tentu setiap pakaian yang dikatakan sebagai pakaian muslimah atau dijual di toko muslimah dapat kita sebut sebagai pakaian yang syar’i. Semua pakaian tadi harus kita kembalikan pada syarat-syarat pakaian muslimah.
Para ulama telah menyebutkan syarat-syarat ini dan ini semua tidak menunjukkan bahwa pakaian yang memenuhi syarat seperti ini adalah pakaian golongan atau aliran tertentu. Tidak sama sekali. Semua syarat pakaian wanita ini adalah syarat yang berasal dari Al Qur’an dan hadits yang shohih, bukan pemahaman golongan atau aliran tertentu. Kami mohon jangan disalah pahami.
Ulama yang merinci syarat ini dan sangat bagus penjelasannya adalah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah –ulama pakar hadits abad ini-. Lalu ada ulama yang melengkapi syarat yang beliau sampaikan yaitu Syaikh Amru Abdul Mun’im hafizhohullah. Ingat sekali lagi, syarat yang para ulama sebutkan bukan mereka karang-karang sendiri. Namun semua yang mereka sampaikan berdasarkan Al Qur’an dan hadits yang shohih.

Syarat pertama: pakaian wanita harus menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Ingat, selain kedua anggota tubuh ini wajib ditutupi termasuk juga telapak kaki.

Syarat kedua: bukan pakaian untuk berhias seperti yang banyak dihiasi dengan gambar bunga apalagi yang warna-warni, atau disertai gambar makhluk bernyawa, apalagi gambarnya lambang partai politik! Yang terkahir ini bahkan bisa menimbulkan perpecahan di antara kaum muslimin.
Allah Ta’ala berfirman,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama.” (QS. Al Ahzab : 33). Tabarruj adalah perilaku wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya serta segala sesuatu yang mestinya ditutup karena hal itu dapat menggoda kaum lelaki.
Ingatlah, bahwa maksud perintah untuk mengenakan jilbab adalah perintah untuk menutupi perhiasan wanita. Dengan demikian, tidak masuk akal bila jilbab yang berfungsi untuk menutup perhiasan wanita malah menjadi pakaian untuk berhias sebagaimana yang sering kita temukan.

Syarat ketiga: pakaian tersebut tidak tipis dan tidak tembus pandang yang dapat menampakkan bentuk lekuk tubuh. Pakaian muslimah juga harus longgar dan tidak ketat sehingga tidak menggambarkan bentuk lekuk tubuh.
Dalam sebuah hadits shohih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu : Suatu kaum yang memiliki cambuk, seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring, wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan ini dan ini.” (HR.Muslim)
Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Makna kasiyatun ‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis sehingga dapat menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, 125-126)
Cermatilah, dari sini kita bisa menilai apakah jilbab gaul yang tipis dan ketat yang banyak dikenakan para mahasiswi maupun ibu-ibu di sekitar kita dan bahkan para artis itu sesuai syari’at atau tidak.

Syarat keempat: tidak diberi wewangian atau parfum.
Dari Abu Musa Al Asy’ary bahwanya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ
Perempuan mana saja yang memakai wewangian, lalu melewati kaum pria agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah wanita pezina.” (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shohih). Lihatlah ancaman yang keras ini!

Syarat kelima: tidak boleh menyerupai pakaian pria atau pakaian non muslim.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata,
لَعَنَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - الْمُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ ، وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ
Rasulullah melaknat kaum pria yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.” (HR. Bukhari no. 6834)
Sungguh meremukkan hati kita, bagaimana kaum wanita masa kini berbondong-bondong merampas sekian banyak jenis pakaian pria. Hampir tidak ada jenis pakaian pria satu pun kecuali wanita bebas-bebas saja memakainya, sehingga terkadang seseorang tak mampu membedakan lagi, mana yang pria dan wanita dikarenakan mengenakan celana panjang.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)
Betapa sedih hati ini melihat kaum hawa sekarang ini begitu antusias menggandrungi mode-mode busana barat baik melalui majalah, televisi, dan foto-foto tata rias para artis dan bintang film. Laa haula walaa quwwata illa billah.

Syarat keenam: bukan pakaian untuk mencari ketenaran atau popularitas (baca: pakaian syuhroh).
Dari Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ فِى الدُّنْيَا أَلْبَسَهُ اللَّهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ أَلْهَبَ فِيهِ نَارًا
Barangsiapa mengenakan pakaian syuhroh di dunia, niscaya Allah akan mengenakan pakaian kehinaan padanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan)
Pakaian syuhroh di sini bisa bentuknya adalah pakaian yang paling mewah atau pakaian yang paling kere atau kumuh sehingga terlihat sebagai orang yang zuhud. Kadang pula maksud pakaian syuhroh adalah pakaian yang berbeda dengan pakaian yang biasa dipakai di negeri tersebut dan tidak digunakan di zaman itu. Semua pakaian syuhroh seperti ini terlarang.

Syarat ketujuh: pakaian tersebut terbebas dari salib.
Dari Diqroh Ummu Abdirrahman bin Udzainah, dia berkata,
كُنَّا نَطُوفُ بِالْبَيْتِ مَعَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ فَرَأَتْ عَلَى امْرَأَةٍ بُرْداً فِيهِ تَصْلِيبٌ فَقَالَتْ أُمُّ الْمُؤْمِنِينَ اطْرَحِيهِ اطْرَحِيهِ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى نَحْوَ هَذَا قَضَبَهُ
“Dulu kami pernah berthowaf di Ka’bah bersama Ummul Mukminin (Aisyah), lalu beliau melihat wanita yang mengenakan burdah yang terdapat salib. Ummul Mukminin lantas mengatakan, “Lepaskanlah salib tersebut. Lepaskanlah salib tersebut. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat semacam itu, beliau menghilangkannya.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Ibnu Muflih dalam Al Adabusy Syar’iyyah mengatakan, “Salib di pakaian dan lainnya adalah sesuatu yang terlarang. Ibnu Hamdan memaksudkan bahwa hukumnya haram.”

Syarat kedelapan: pakaian tersebut tidak terdapat gambar makhluk bernyawa (manusia dan hewan).
Gambar makhluk juga termasuk perhiasan. Jadi, hal ini sudah termasuk dalam larangan bertabaruj sebagaimana yang disebutkan dalam syarat kedua di atas. Ada pula dalil lain yang mendukung hal ini.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki rumahku, lalu di sana ada kain yang tertutup gambar (makhluk bernyawa yang memiliki ruh, pen). Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau langsung merubah warnanya dan menyobeknya. Setelah itu beliau bersabda,
إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ القِيَامَةِ الذِّيْنَ يُشَبِّهُوْنَ ِبخَلْقِ اللهِ
Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah yang menyerupakan ciptaan Allah.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan ini adalah lafazhnya. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, An Nasa’i dan Ahmad)

Syarat kesembilan: pakaian tersebut berasal dari bahan yang suci dan halal.

Syarat kesepuluh: pakaian tersebut bukan pakaian kesombongan.
Syarat kesebelas: pakaian tersebut bukan pakaian pemborosan .

Syarat keduabelas: bukan pakaian yang mencocoki pakaian ahlu bid’ah. Seperti mengharuskan memakai pakaian hitam ketika mendapat musibah sebagaimana yang dilakukan oleh Syi’ah Rofidhoh pada wanita mereka ketika berada di bulan Muharram. Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa pengharusan seperti ini adalah syi’ar batil yang tidak ada landasannya.
Inilah penjelasan ringkas mengenai syarat-syarat jilbab. Jika pembaca ingin melihat penjelasan selengkapnya, silakan lihat kitab Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani. Kitab ini sudah diterjemahkan dengan judul ‘Jilbab Wanita Muslimah’. Juga bisa dilengkapi lagi dengan kitab Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah yang ditulis oleh Syaikh Amru Abdul Mun’im yang melengkapi pembahasan Syaikh Al Albani.

Terakhir, kami nasehatkan kepada kaum pria untuk memperingatkan istri, anggota keluarga atau saudaranya mengeanai masalah pakaian ini. Sungguh kita selaku kaum pria sering lalai dari hal ini. Semoga ayat ini dapat menjadi nasehatkan bagi kita semua.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)
Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua dalam mematuhi setiap perintah-Nya dan menjauhi setiap larangan-Nya.

Alhamdullillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat.

Rujukan:
1. Faidul Qodir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, Al Munawi, Mawqi’ Ya’sub, Asy Syamilah
2. Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Maktabah Al Islamiyah-Amman, Asy Syamilah
3. Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Syaikh ‘Amru Abdul Mun’im Salim, Maktabah Al Iman
4. Kasyful Musykil min Haditsi Ash Shohihain, Ibnul Jauziy, Darun Nasyr/Darul Wathon, Asy Syamilah
5. Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, An Nawawi, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah
***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://rumaysho.com

Sabtu, 01 Desember 2012

Bolehkah menggunakan jilbab (pakaian) berwarna-warni?

Bismillah...
Assalamualaikum Dear..
Afwan..
Baru saja keluar dari GUA bernama Muhasabah :')
Apakabar?
Semoga Semua selalu diberkahi oleh Alloh Subhana wata'ala..

Kali ini Nha akan berbagi tentang warna :)
Seiring dengan banyaknya muslimah yang ingin menggunakan jilbab Syar'i,
timbul berbagai pertanyaan...
benarkah jilbab syari itu harus hitam???
Nha pun sempat bertanya-tanya...
Baru saja Nha menemukan sebuah artikel dengan pengkajian yang cukup Shahih,
Semoga bermanfaat untuk semuanya :)

Warna pakaian wanita tidak ada standar baku dalam Islam, sebenarnya tergantung dengan kebiasaan di negeri masing-masing. Pakaian wanita muslimah tidak selamanya hitam seperti anggapan sebagian orang. Boleh saja warna pakaian dan jilbab adalah putih, sebagaimana yang masyhur di negeri kita. Namun jika pakaiannya berwarna-warni, ditambah aksesoris bunga, dll yang ini menimbulkan godaan dan membuat lawan jenis jadi tertarik, maka jelas tidak dibolehkan. Tetapi, kenyataannya, tidak sedikit wanita yang hanya mau bergaya tanpa memperhatikan aturan dalam berjilbab.
Ulama senior di Kerajaan Saudi Arabia dan angota Hay-ah Kibaril Ulama’ ditanya, “Apakah boleh memakai jilbab yang berwarna (selain hitam)?”
Beliau hafizhohullah menjawab,
“Jika engkau maksudkan adalah memakai jilbab warna-warni yang menutupi wajah dan telapak tangan lantas menimbulkan fitnah atau godaan, maka terang saja tidak dibolehkan.
Jika yang dimaksud adalah jilbab selain warna hitam, yaitu jilbab warna putih, hijau, merah atau selain itu dan di negeri tersebut sudah terbiasa dengan jilbab warna semacam itu, maka tidak mengapa. Karena pakaian kata para ulama dikembalikan pada ‘urf, yaitu kebiasaan masyarakat sekitar. Dikecualikan di sini untuk pakaian yang terdapat larangan khusus seperti pakaian yang dicelup dengan ‘ushfur, za’faron atau pakaian warna merah, semua pakaian semacam  itu bagi laki-laki terlarang. Selain pakaian semacam itu, maka dikembalikan pada ‘urf (kebiasaan masyarakat). Untuk wanita, jika warna pakaian dimaksudkan untuk berhias diri, maka tidak boleh. Karena Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ

Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka.” (QS. An Nur: 31). Jika warna pakaian wanita sampai menggoda yang lain, maka seperti itu pun terlarang agar tidak membawa pada kerusakan.
Intinya, mereka silakan menimbang-nimbang maslahat. Hukum pakaian itu sekali lagi tergantung ‘urf masing-masing negeri. Bisa saja ada yang berpakaian semacam itu di suatu negeri, maka akan mengundang godaan, namun belum tentu di negeri lain. Oleh karenanya, lihatlah keadaan di negeri masing-masing. Jika di Perancis, tidak tergoda dengan warna pakaian semacam itu, semacam jika memakai pakaian selain warna hitam, maka tidaklah terlarang. Namun jika sampai mengundang godaan, sampai-sampai orang lain terus memperhatikan karena menjadi pakaian ketenaran, maka tidak boleh memakai pakaian semacam itu.

Sumber fatwa dari website pribadi Syaikh ‘Abdul Karim Al Khudair:



nduk'NHA

Kamis, 01 November 2012

Jangan Menolak Kebenaran

Kebenaran mutlak datang hanya dari Allah Azza wa Jalla. Oleh karena itu, al-haq tidak diambil kecuali dengan petunjuk kitab Allah Azza wa Jalla dan Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sepantasnya orang-orang yang sudah menerima al-haq, hendaknya mereka menerima dan mengikutinya.

Allah Azza wa Jalla telah memuji orang-orang yang beriman karena mereka mengkuti al-haq dalam firmannya:

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari rabbmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, [a-Ra’d/13:19]

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata tentang makna ayat ini: “Maka tidaklah sama orang yang meyakini kebenaran yang engkau bawa –wahai Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam – dengan orang yang buta, yang tidak mengetahui dan memahami kebaikan. Seandainya memahami, dia tidak mematuhinya, tidak mempercayainya, dan tidak mengikutinya”. [1]

Namun, umumnya manusia tidak peduli terhadap kebenaran, tidak mau mencarinya, dan tidak menelitinya. Sehingga mereka berkubang di dalam kesesatan dengan sadar atau tanpa sadar. Allah Azza wa Jalla berfirman:

أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً ۖ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ ۖ هَٰذَا ذِكْرُ مَنْ مَعِيَ وَذِكْرُ مَنْ قَبْلِي ۗ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ الْحَقَّ ۖ فَهُمْ مُعْرِضُونَ

Apakah mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain-Nya? Katakanlah: “Tunjukkanlah hujjahmu! (al-Qur`ân) ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang-orang yang sebelumku.” Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui yang hak, karena itu mereka berpaling. [al-Anbiyâ’/21:24]

Syaikh `Abdurrahmân bin Nâshir as-Sa’di rahimahullah berkata: “Mereka tidak mengetahui kebenaran bukan karena kebenaran itu samar dan tidak jelas. Namun karena mereka berpaling darinya. Jika mereka tidak berpaling dan mau memperhatikannya, niscaya kebenaran menjadi jelas bagi mereka dari kebatilan, dengan kejelasan yang nyata dan gamblang”.[2]

Oleh karena itu, jangan sekali-kali seorang Muslim menolak kebenaran. Siapa pun pembawanya. Karena menolak kebenaran itu merupakan sifat kesombongan yang dibenci oleh Allah Azza wa Jalla . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi. Seorang laki-laki bertanya: “Ada seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus (apakah termasuk kesombongan?) Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah Maha indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. [HR. Muslim, no. 2749, dari `Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu]

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Adapun ‘menolak kebenaran’ yaitu menolaknya dan mengingkarinya dengan menganggap dirinya tinggi dan besar”.[3]

Imam Ibnul Atsîr rahimahullah berkata tentang makna ‘menolak kebenaran’, yaitu menyatakan batil terhadap perkara yang telah Allah Azza wa Jalla tetapkan sebagai kebenaran, seperti mentauhidkan-Nya dan beribadah kepada-Nya. Ada yang mengatakan, maknanya adalah menzhalimi kebenaran, yaitu tidak menganggapnya sebagai kebenaran. Dan ada yang mengatakan, maknanya adalah merasa besar terhadap kebenaran, yaitu tidak menerimanya”.[4]

Seorang Muslim jangan menyerupai orang-orang Yahudi. Mereka mengetahui kebenaran, namun tidak mengikutinya. Allah Azza wa Jalla berfirman tentang orang-orang Yahudi Madinah yang enggan beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ ۚ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ

Dan setelah datang kepada mereka (orang-orang Yahudi) al-Qur`ân dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. [al-Baqarah/2:89]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Allah Azza wa Jalla menyifati orang-orang Yahudi bahwa mereka dahulu mengetahui kebenaran sebelum munculnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbicara dengan kebenaran dan mendakwahkannya. Namun, setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada mereka, beliau berbicara dengan kebenaran. Karena beliau bukan dari kelompok yang mereka sukai, maka mereka pun tidak tunduk kepada beliau, dan mereka tidak menerima kebenaran kecuali dari kelompok mereka. Padahal, mereka tidak mengikuti perkara yang diwajibkan oleh keyakinan mereka”[5]

Inilah di antara sifat-sifat buruk orang-orang Yahudi. Mereka tidak mau menerima kebenaran kecuali dari kelompok mereka saja. Rupanya, sifat seperti ini menjalar di kalangan ahli bid’ah dulu dan sekarang, mereka tidak mau menerima kebenaran kecuali dari kelompoknya saja, atau buku-bukunya saja, atau guru-gurunya saja. Wallâhul Musta’ân.

Sesungguhnya kebenaran itu tetap diterima walau pun datangnya dari orang kafir. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan hal ini di dalam beberapa hadits beliau. Antara lain hadits berikut ini.‘Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata:

دَخَلَتْ عَلَيَّ عَجُوزَانِ مِنْ عُجُزِ يَهُوْدِ الْمَدِينَةِ فَقَالَتَا لِيْ إِنَّ أَهْلَ الْقُبُوْرِ يُعَذَّبُونَ فِي قُبُوْرِهِمْ فَكَذَّبْتُهُمَا وَلَمْ أُنْعِمْ أَنْ أُصَدِّقَهُمَا فَخَرَجَتَا وَدَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ عَجُوزَيْنِ وَذَكَرْتُ لَهُ فَقَالَ صَدَقَتَا إِنَّهُمْ يُعَذَّبُونَ عَذَابًا تَسْمَعُهُ الْبَهَائِمُ كُلُّهَا فَمَا رَأَيْتُهُ بَعْدُ فِي صَلاَةٍ إِلاَّ تَعَوَّذَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Dua nenek Yahudi Madinah masuk menemuiku, keduanya mengatakan kepadaku: “Sesungguhnya orang-orang yang berada di dalam kubur disiksa di dalam kubur mereka”. Aku mendustakan keduanya, aku tidak senang membenarkan keduanya. Lalu keduanya keluar. Nabi datang masuk menemuiku, maka aku berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah , sesungguhnya dua nenek…”, aku menyebutkan kepada beliau. Beliau bersabda: “Keduanya benar. Sesungguhnya mereka disiksa dengan siksaan yang didengar oleh binatang-binatang semuanya”. Kemudian tidaklah aku melihat beliau di dalam shalat setelah itu, kecuali beliau berlindung dari siksa kubur”. [HR. Bukhâri, no. 6366; Muslim, no. 586]

Lihatlah, bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan dan menerima perkataan dua nenek Yahudi tentang adanya siksa kubur. Bahkan, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari siksa kubur di dalam shalatnya setelah itu. Maka bandingkanlah dengan sebagian orang Islam di zaman ini, ketika telah disampaikan kepadanya tentang suatu permasalahan yang benar berdasarkan ayat al-Qur’ân, hadits yang shahîh, dan penjelasan para Ulama. Mereka tidak menerimanya hanya karena orang yang menyampaikan berbeda madzhabnya, organisasinya, tempat mengajinya, kebiasaan masyarakatnya, atau semacamnya.

Di dalam suatu kejadian yang lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari perkataan yang benar dari orang-orang Yahudi. Bahkan beliau meluruskan amalan umat dari sebab peringatan yang disampaikan oleh seorang Yahudi! Sebagaimana disebutkan dalam hadits di bawah ini:

عَنْ قُتَيْلَةَ امْرَأَةٍ مِنْ جُهَيْنَةَ أَنَّ يَهُودِيًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّكُمْ تُنَدِّدُونَ وَإِنَّكُمْ تُشْرِكُونَ تَقُولُونَ مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ وَتَقُولُونَ وَالْكَعْبَةِ فَأَمَرَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادُوا أَنْ يَحْلِفُوا أَنْ يَقُولُوا وَرَبِّ الْكَعْبَةِ وَيَقُولُونَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ شِئْتَ

Dari Qutailah, seorang wanita dari suku Juhainah, bahwa seorang laki-laki Yahudi mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Sesungguhnya kamu menjadikan tandingan (bagi Allah). Sesungguhnya kamu menyekutukan (Allah). Kamu mengatakan ‘Apa yang Allah kehendaki dan apa yang engkau kehendaki’. Kamu juga mengatakan ‘Demi Ka’bah’. Maka Nabi memerintahkan kaum Muslimin, jika menghendaki sumpah untuk mengatakan ‘Demi Rabb Ka’bah’. Dan agar mereka mengatakan ‘Apa yang Allah kehendaki kemudian apa yang engkau kehendaki’. [HR. Nasâi, no. 3773; dishahîhkan oleh al-Albâni]

Ketika menjelaskan faedah-faedah dari hadits ini, Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn rahimahullah berkata:

Pertama: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari orang Yahudi tersebut, padahal yang nampak dari niat orang Yahudi itu adalah mencela Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat beliau. Karena yang dia katakan memang benar.

Kedua: Disyari’atkan kembali menuju kebenaran walaupun yang mengingatkan hal itu adalah bukan pengikut kebenaran.

Ketiga: Sepantasnya ketika merubah sesuatu hendaknya merubahnya kepada sesuatu yang dekat dengannya. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengatakan ‘Demi rabb Ka’bah’, dan beliau tidak mengatakan ‘Bersumpahlah dengan nama Allah Azza wa Jalla ‘. Dan beliau memerintahkan mereka agar mengatakan ‘Apa yang Allah Azza wa Jalla kehendaki, kemudian apa yang engkau kehendaki’”.

Setelah penjelasan ini, Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn menyampaikan suatu masalah dan jawabannya. Yaitu jika ditanya: “Kenapa tidak ada yang mengingatkan (kesalahan) perbuatan ini kecuali seorang Yahudi?” Jawabannya adalah: “Kemungkinan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mendengarnya dan tidak mengetahuinya.” Jika ditanya lagi, “Allah Maha mengetahui, kenapa mendiamkan mereka?”, maka dijawab: “Sesungguhnya itu adalah syirik ashghar (kecil), bukan syirik akbar (besar). Hikmahnya adalah ujian bagi orang-orang Yahudi. Mereka mengkritik umat Islam atas kata tersebut, padahal mereka menyekutukan Allah Azza wa Jalla dengan syirik yang besar, namun mereka tidak melihat aib mereka”.[6]

Bahkan sesungguhnya menolak kebenaran itu merupakan sifat orang-orang kafir. Syaikh Muhammad bin Jamîl Zainu -hafizhahullâh- berkata: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mengutus para Rasul kepada manusia, dan memerintahkan mereka dengan dakwah untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dan mentauhidkan-Nya. Namun mayoritas umat mendustakan para rasul. Mereka menolak al-haq yang telah diserukan kepada mereka, yaitu tauhid. Maka akibatnya adalah kehancuran” [7].

Syaikh juga mengatakan: “Oleh karena ini, wajib menerima al-haq dari siapa saja, bahkan walaupun dari setan.” Kemudian Syaikh membawakan hadits shahîh seperti di bawah ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ فَأَتَانِي آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُو مِنْ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ َلأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنْ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewakilkan aku untuk menjaga zakat Ramadhan. Kemudian ada seorang yang mendatangiku lalu mengambil makanan dengan tangannya. Maka aku menangkapnya, dan kukatakan: “Aku benar-benar akan membawamu kepada Rasulullah …kemudian dia menyebutkan hadits itu…lalu pencuri itu berkata: “Jika engkau pergi ke tempat tidurmu bacalah ayat kursi, akan selalu ada seorang penjaga dari Allah atasmu, dan setan tidak akan mendekatimu sampai waktu subuh”. Kemudian Nabi bersabda: “Dia (pencuri itu) telah berkata benar kepadamu (hai Abu Hurairah), namun dia itu sangat pendusta, dia adalah setan”.[9]

Kesimpulannya adalah sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Jamîl Zainu -hafizhahullâh- : “Berdasarkan ini, seorang Mukmin tidak boleh menolak kebenaran dan nasehat sehingga tidak menyerupai orang-orang kafir, dan sehingga tidak terjerumus di dalam kesombongan yang akan menghalangi pelakunya untuk memasuki surga. Hikmah adalah barang hilang seorang Mukmin, di mana saja dia menemuinya, dia mengambilnya”. [10] Wallâhu Waliyut Taufîq.
Sumber : http://almanhaj.or.id/content/3440/slash/0/jangan-menolak-kebenaran/

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XIII/1431H/2010M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 ]
_______
Footnote
[1]. Tafsir al-Qur’ânil ‘Azhîm, surat . ar-Ra’du/13: 19
[2]. Tafsir Taisîr Karîmir Rahmân, surat al-Anbiyâ’/21:24
[3]. Syarah Muslim, hadits no. 2749
[4]. An-Nihâyah fî Gharîbil Hadîts
[5]. Iqtidhâ’ Shirâthil Mustaqîm, hlm. 14; syarah Syaikh al-‘Utsaimîn; Penerbit. Dâr Ibni Haitsâm; Kairo; takhrîj: Fathi Shâlih Taufîq
[6]. Al-Qaulul Mufîd, hlm. 522-523; Penerbit Abu Bakar ash-Shiddîq, Mesir, cet. 1, th. 2007 M / 1428 H; tahqîq: Muhammad Sayyid ‘Abdur Rabbir Rasul
[7]. Minhajul-Firqah an-Nâjiyah, hlm.140
[8]. Minhajul-Firqah an-Nâjiyah, hlm.140
[9]. HR. Bukhâri, no. 2311, 3275, dengan mu’allaq, namun disambungkan oleh Abu Bakar al-Ismâ’ili dan Abu Nu’aim, sebagaimana disebutkan di dalam Hadyus sâri, hlm. 42 dan Fathul Bâri 4/488. Lihat penjelasan lengkap di dalam Fathul Mannân, hlm. 458-460, karya Syaikh Masyhûr bin Hasan Alu Salmân
[10]. Minhajul-Firqah an-Nâjiyah, hlm.140

nduk'NHA

Senin, 29 Oktober 2012

Benarkah kita semua seorang Muslim?

Bismillah...
Apa kabar dear?
Terimakasih masih berkunjung di blog ini...
Semoga harimu masih diberkahi dengan kebaikan-kebaikanNYA..
Semoga kita semua selalu diberikan kesabaran untu menjalani apa saja ujian-ujian dariNYA sebagai bentuk peningkatan keimanan kita...

Kali ini Nha mengajak semuauntuk sekedar merenung...
Ini bukan sebagai bahan intimidasi, ini sebagai bahan intropeksi..
Intropeksi Ane sebagai yang punya bolg, intropeksi antum yang membaca,
Karena kita semua "mengaku seorang" Muslim...

Bukan berarti dengan menulis ini saya sudah menjadi muslimah yang baik..
Tapi kita semua tentunya berproses ke arah sana bukan...
Teringat satu hal yang selalu saya patri dalam ingatan,
"Janganlah kau menjadi seorang yang sama dengan hari kemaren, sesungguhnya kamu adalah orang yang merugi. Dan janganlah kamu menjadi orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemaren karena berati kau adalah orang yang celaka"

Naudzubillah...
Semoga dengan membaca tulisan ini..
kita semua mampu menjadi pribadi yang lebih baik...
Pribadi yang senantiasa memperbaharui iman, dan mengubah diri menjadi lebih baik :')
Aamiin.. Allohumma Aamiin ...
Semoga bermanfaat ^^/

I call myself muslim, but I don’t wear hijaab correctly according to that commanded by Allaah and His messenger.
I call myself muslim, but I don’t obey His command to avoid free mixing (ikhtilaath) between men and women.
I call myself muslim, but I post my pic with my girlfriend/boyfriend on social media, while I know exactly she/he is not my mahraam.
I call myself muslim, but I post my most beautiful pic online so people can admire me, even though I know lowering gaze is a must in this Deen.
I call myself muslim, but I can’t live without gossiping/backbiting, even though I know it is strictly prohibited.
I call myself muslim, but I prefer listening to music rather than reciting Qur’an.
I call myself muslim, but attending music concert is more beloved to me than attending circle of knowledge in masjid.
I call myself muslim, but I prefer to memorize the names of football players instead of the names of 10 companions of Rasulullaah who were given good tidings of Paradise.
I call myself muslim, but do I act like one?

I call myself muslim, but I don’t wear hijaab correctly according to that commanded by Allaah and His messenger.

I call myself muslim, but I don’t obey His command to avoid free mixing (ikhtilaath) between men and women.

I call myself muslim, but I post my pic with my girlfriend/boyfriend on social media, while I know exactly she/he is not my mahraam.

I call myself muslim, but I post my most beautiful pic online so people can admire me, even though I know lowering gaze is a must in this Deen.

I call myself muslim, but I can’t live without gossiping/backbiting, even though I know it is strictly prohibited.

I call myself muslim, but I prefer listening to music rather than reciting Qur’an.

I call myself muslim, but attending music concert is more beloved to me than attending circle of knowledge in masjid.

I call myself muslim, but I prefer to memorize the names of football players instead of the names of 10 companions of Rasulullaah who were given good tidings of Paradise.

I call myself muslim, but do I act like one?

(via @chynatic)

nduk'NHA

Minggu, 28 Oktober 2012

Seusai Badai

Rasanya cukup lama..
Berpura-pura "Senyum" dan berlindung dalam kalimat "aku baik-baik saja",
Bahkan langitpun tahu tentang kebohongan ini,
Hujan ini buktinya..
Petir dan kilat seperti berteriak marah..
Semakin ku mengacuhkan angin kencang yang mengetuk jendela,
Semakin deras langit mengguyur tanah.
Bougenvile di depan rumah sampai basah kuyup terantuk-antuk,
Parit mengalirkan air lebih tinggi dari biasanya,
Kalau langit tak menghentikan ini mungkin sebentar lagi akan banjir.

Ku tutup buku merah jambu,
akhirnya kuhiraukan juga hujan yang tak biasa itu,
berbisik pelan..
"Selama sedihku ini bermanfaat untuk kebahagiaannya,
aku takkan lelah berkata 'Everything Gonna be okay'"

Hujan berubah jadi gerimis,
angin sepoi-sepoi meninggalkan dingin yang menusuk,
wangi tanah basah bercampur dengan soka yang bermekaran,
 Langit cerah perlahan..
PELANGI mengurai senyum...

Aku percaya,
akhir semua ini pasti bahagia...
mungkin bukan sekarang waktunya...
mungkin nanti...
Bukankah pelangi datang sesudah badai?
Bahagiaku akan tiba, aku hanya perlu bersabar :')

Waena, 28 Oktober 2012
nduk'NHA

Sabtu, 27 Oktober 2012

If Tomorrow Never Comes

Sometimes late at night
I lie awake and watch you sleeping
You've lost in peaceful dreams
So I turn out the lights and lay there in the dark
And the thought crosses my mind
If I never wake up in the morning
Would you ever doubt the way I feel About you in my heart
If tomorrow never comes
Would you know how much I loved you
Did I try in every way to show you every day
That you’re my only one
And if my time on earth were through
And you must face this world without me
Is the love I gave you in the past
Gonna be enough to last
If tomorrow never comes
 So I made a promise to myself
To say each day how much you mean to me
And avoid that circumstance
where there's no second chance to tell you how I feel
If tomorrow never comes
Would you know how much I loved you
Did I try in every way to show you every day
That you’re my only one
And if my time on earth were through
And you must face this world without me
Is the love I gave you in the past
Gonna be enough to last
If tomorrow never comes
So tell that someone that you love
Just what you're thinking of
If tomorrow never comes

Membuka beberapa catatan seorang teman di facebook...
Saya menemukan lirik ini di dindingnya... :)
Cukup membuat saya merenung panjang....
"Jika esok tak pernah datang..."

Liriknya memang bercerita tentang cinta,
tapi lebih dalam jika kita mampu memaknainya..
Lirik ini memberikan banyak pelajaran...
 Kadang kita gak sadar, melakukan banyak hal seolah-olah kita hidup selamanya di dunia..
Seenaknya mengatakan "nanti" untuk hal-hal yang sebenarnya tidak boleh ditunda..
dengan alasan "kan masih ada hari esok... ", benarkah???
Masa depan itu tak pernah pasti, jangankan esok...
1menit atau 1jam ke depan aja entah kita masih hidup atau nggak..
kita gak pernah tahu.... karena waktu memang hal paling misterius di dunia..

Disaat seenaknya kita menunda, mengacuhkan, mengabaikan...
Waktu tiba-tiba merampas semua yang kita punya :)
KESEMPATAN tiba-tiba hilang...
tinggal penyesalan yang ada.. dan saat itu semua sudah terlambat..

Selama masih ada waktu.. dan masih ada kesempatan..Yuk jangan pernah memunda...

Hadiah untukmu wahai pembaca...
ku terjemahkan dengan susah payah lirik lagu di atas...
Semoga manfaat untuk semuanya :)

Di suatu malamAku berbaring terjaga dan memandangmu tidur
Kau telah terlelap dalam mimpi indah
Maka kupadamkan lampu dan berbaring di sana dalam gelap
Dan terlintas dalam anganku
Bila esok pagi aku tak bangun lagi
Akankah kau ragu akan perasaanku tentang dirimu?
Bila esok tak pernah tiba Akankah kau tahu betapa aku mencintaimu?
Sudahkah aku setiap hari berusaha dengan segala cara
untuk menunjukkan kepadamu bahwa kau adalah satu-satunya bagiku?
Dan bila waktuku di dunia telah berlalu
dan kau harus menghadapi dunia tanpa diriku
Apakah cinta yang kuberikan selama ini telah cukup untuk membuatmu bertahan?
Bila esok tak pernah tiba Maka aku berjanji kepada diriku sendiri 
untuk setiap hari mengatakan betapa berartinya kau bagiku
dan menghindari tidak adanya kesempatan ke dua 
untuk mengatakan perasaanku kepadamu. 
Bila esok tak pernah tiba, Akankah kau tahu betapa aku mencintaimu?
Sudahkah aku setiap hari berusaha dengan segala cara
untuk menunjukkan kepadamu bahwa kau adalah satu-satunya bagiku?
Dan bila waktuku di dunia telah berlalu dan kau harus menghadapi dunia tanpa diriku
Apakah cinta yang kuberikan selama ini telah cukup untuk membuatmu bertahan?

Bila esok tak pernah tiba,
Maka katakanlah kepada orang yang kau cintai
Apa yang sedang kau pikir (rasa)kan
Bila esok tak pernah tiba.



nduk'NHA

Kamis, 25 Oktober 2012

Kejujuran

 “Apa pun yang harus dipertahankan dengan kebohongan tidak akan bertahan terhadap ujian waktu.
Mario Teguh -

Kejujuran...
Mudah melafalkannya tapi susahpayah melakukannya..
Jangan sampai kau harus berutang -maaf-..
bila kau awali dengan kebohongan,
jangan pernah mengakhirinya dengan kebohongan,
nanti kau akan bingung...
harus mengaku salah pada siapa :)

                                                                                                  

DOR!!!!
Sekedar update dear..
semoga senantiasa diberi keberkahan kalian semua..
terimakasih masih setia mengunjungi blog yang random ini...
Wassalam

Rabu, 24 Oktober 2012

Dari 1000 orang, 999 masuk neraka???

BISMILLAH..

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Allah berfirman: “Wahai Adam!” maka ia menjawab: “Labbaik wa sa’daik” kemudian Allah berfirman: “Keluarkanlah dari keturunanmu ahli neraka!” maka Adam bertanya: “Ya Rabb, apakah ahli neraka itu?” Allah berfirman: “Dari setiap 1000 orang, 999 di neraka dan hanya 1 orang yang masuk surga.” Maka ketika itu para sahabat yang mendengar bergemuruh membicarakan hal tersebut. Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah di antara kami yang menjadi satu orang tersebut?” Maka beliau bersabda: “Bergembiralah, karena kalian berada di d…alam dua umat, tidaklah umat tersebut berbaur dengan umat yang lain melainkan akan memperbanyaknya, yaitu Ya’juj dan Ma’juj. Pada lafaz yang lain: “Dan tidaklah posisi kalian di antara manusia melainkan seperti rambut putih di kulit sapi yang hitam, atau seperti rambut hitam di kulit sapi yang putih.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebenarnya, bukan jaminan bahwa orang yg mengucapkan kalimat syahadat bisa masuk surga. Begitu juga bukan jaminan orang yang ‘mengaku’ Ahlus Sunnah atau Salafi bisa masuk surga. Karena sesungguhnya, masuk surganya seseorang itu tidak lain adalah karena Karunia dan Rahmat Allah semata, bukan karena amalan2 baiknya. Bisa jadi seseorang yg ‘mengaku’ Ahlus Sunnah atau Salafi dan byk beramal kebaikan tapi dimasukkan ke neraka oleh Allah, jika Allah menghendakinya, dan Allah tidak menerima amalan2nya serta tidak mengampuni dosa2nya. Sedangkan orang yang banyak dosa2 dan kemaksiatan atau kebid’ahan (selama yg dilakukannya bukan perbuatan syirik yg mengeluarkan dia dari agama) maka bisa saja Allah masukkan ke surga, jika Dia menghendaki, Dia mengampuni seluruh dosa2nya dan menerima amalan2nya. Bukankah para Salaf atau sahabat Nabi sudah dijamin surga oleh Allah, bahkan mereka diatas manhaj yg haq ini, lantas kenapa mereka semua tidak mengetahui dimana tempatnya di akhirat kelak, di surga atau di neraka? bahkan mereka selalu ketakutan sepanjang hidupnya jika tempatnya kelak adalah di neraka. Wallahu a’lam.
Hal itu sebagaimana ditegaskan Allah Subhanahu wa Ta’ala : “…Sekirannya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan yang keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan apa yang dikehendaki-Nya…” (QS. An Nur : 21).
“…dan mereka berkata : Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (jannah) ini, dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk..” (QS. Al A’raaf : 43). (Lihat kitab Aqidatu As Salaf Ashabul Hadits, oleh Syaikhul Islam Abu Isma’il ‘Abdurrahman bin Isma’il Ash Shabuni, dalam Bab “Engkau Tak Akan Dimasukkan Ke Dalam Jannah Hanya Karena Amal Perbuatanmu”, Edisi Terjemahan).
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidak ada satu jiwapun dari kalian melainkan telah diketahui tempatnya, baik di surga atau di neraka.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu untuk apa kita beramal? Mengapa kita tidak pasrah saja?” Beliau menjawab, “Tidak, tapi beramallah! Karena setiap orang telah dimudahkan kepada apa yang telah ditakdirkan untuknya.” (HR: Bukhari, (VII/212) dan Muslim, (VIII/47, no. 2647).
Hadits ini adalah sebagai dalil dari apa yang telah disebutkan tadi. Ia menunjukkan bahwa manusia itu diberi pilihan , yaitu berdasarkan sabdanya: “Beramallah!” Serta menunjukkan bahwa dalam pilihannya tersebut ia tidak keluar dari ketentuan Allah, berdasarkan sabdanya: “Karena setiap orang telah dimudahkan kepada apa yang ditakdirkan untuknya.” (Lihat kitab Al Iman bil Qadha’ wal Qadar, oleh Muhammad bin Ibrahim al Hamd).
Mereka (Ahlu Sunah wal Jama’ah) meyakini bahwa Surga tidak wajib untuk seseorang meskipun amalnya baik, kecuali jika Allah meliputinya dengan karunia-Nya lalu ia memasukinya dengan rahmat-Nya. (Lihat Surat An Nur : 21 diatas).
Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidak ada seorangpun yang dimasukkan ke dalam surga oleh amalnya.” Ditanyakan, “Tidak juga engkau, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak juga aku, kecuali Rabb-ku meliputiku dengan rahmat-Nya.” (HR: Muslim no. 2816 (72), Shahih al Bukhari no. 5673 dan takhrij Syaikh al Albani dalam ash Shahiihah no. 2602).
Ahlu Sunah tidak memastikan adzab bagi setiap orang yang memperoleh ancaman –selain perkara yang menyebabkan kufur-. Karena mungkin Allah akan mengampuninya dengan sebab ketaatan-ketaatan yang dilakukannya, dengan taubat atau musibah-musiba…h dan penyakit-penyakit yang bisa menghapuskan dosa-dosa. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53).
Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika seseorang berjalan di suatu jalan, ia menjumpai ranting berduri di atas jalanan lalu ia menyingkirkannya, maka Allah memujinya lalu mengampuninya.” (HR: Bukhari).
(Lihat kitab Al Wajiz fii ‘Aqidatis Salafish Shalih Ahlis Sunnah wal Jama’ah, oleh Abdullah bin ‘Abdil Hamid al Atsari).
Dalam kitab ‘Aqidah Ath Thahawiyah Syarah wa Ta’liq, oleh Muhammad Nashiruddin Al Albani, di point ke 59 disebutkan: “Kita berharap kepada Allah mengampuni dosa orang-orang mukmin yang berbuat baik dan memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. Kita tidak beranggapan bahwa mereka aman dari siksa Allah, dan kita juga tidak bisa memastikan bahwa mereka pasti masuk surga. Kita memohonkan ampun bagi orang-orang Islam yang melakukan dosa dan kita juga mengkhawatirkan diri mereka akan tertimpa adzab. Namun kita tidak berputus asa untuk meminta ampunan Allah untuk mereka.” Syarah: Salah seorang pemberi syarah kitab ini, Ibnu Mani’ berkata, “Ketahuilah, yang menjadi ketetapan Ahlu Sunnah wal Jama’ah adalah bahwa mereka tidak bisa memastikan seorang pun diantara kaum muslimin masuk surga atau masuk neraka, kecuali orang-orang yang telah mendapat jaminan dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.Akan tetapi Ahlu Sunnah wal Jama’ah berharap agar orang-orang yang melakukan kebaikan (mendapatkan surga) dan orang-orang yang melakukan kejelekan (tidak masuk neraka). Dengan adanya ketetapan diatas, kita tahu, tatkala ada seorang alim, pemimpin, raja, atau yang lainnya berkata tentang seseorang, “Dia diampuni atau dia penghuni surga.” Lalu dipahami oleh kebanyakan orang dia diampuni oleh Allah, tidak diragukan lagi itu adalah berkata atas nama Allah tanpa dasar ilmu. Mengatakan sesuatu atas nama Allah tanpa dasar ilmu serupa dengan tindak kesyirikan.
Point 60 : “Rasa aman dari Ancaman Allah dan berputus asa dari ampunan-Nya adalah dua perbuatan yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Sikap yang benar adalah tengah-tengah diantara kedua sikap tersebut.”
Point 68 : “Para pelaku dosa besar (dari kalangan umat Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam) berada dalam neraka, namun mereka tidak kekal di dalamnya. Bila mereka meninggal dalam keadaan bertauhid, sementara mereka tidak bertaubat dari perbuatan dosa-dosa besar hingga matinya, namun mereka dalam keadaan beriman, maka nasib mereka berada dalam kehendak dan kebijaksanaan Allah; jika Allah menghendaki, dengan kebijaksanaan-Nya Dia akan mengampuni dan memaafkan dosa mereka sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: ‘Dan Dia akan mengampuni dosa selain dosa syirik bagi siapa yang dikehendakinya.’ Bila Allah menghendaki, Dia akan mengadzab mereka di neraka sesuai keadilan-Nya. Kemudian Allah akan mengeluarkan mereka dari neraka karena sifat kasih-Nya dank arena adanya syafaat dari orang-orang yang taat, selanjutnnya memasukkan mereka kedalam surga. Hal itu karena Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang mengenal-Nya. Dia tidak akan memperlakukan mereka di dunia dan di akhirat sebagaimana memperlakukan orang-orang yang tidak mengenal-Nya. Yaitu orang-orang yang tidak mau mengikuti petunjuk-Nya dan tidak mengharap kecintaan-Nya. Wahai Allah, Pemelihara dan Pemilik Islam, teguhkan kami dalam memeluk agama Islam sehingga kami bisa berjumpa dengan Engkau.”
Point 70 : “Kita tidak boleh memastikan seseorang dari mereka masuk surga atau masuk neraka. Kita juga tidak boleh menetapkan seseorang itu kafir, musyrik atau munafik sebelum kita melihat adanya bukti yang jelas. Kita memasrahkan masalah isi hati mereka kepada Allah Ta’ala.”
(Lihat Kitab ‘Aqidah Ath Thahawiyah Syarah wa Ta’liq, oleh Muhammad Nashiruddin Al Albani).
Sumber: http://gizanherbal.wordpress.com/2011/06/02/perbandingan-penghuni-neraka-dengan-penghuni-surga-adalah-1000-1/

nduk'NHA

Rabu, 17 Oktober 2012

Misunderstood,


 
Bismillah..
Hallo Dear,
Rasanya senang banget bisa nulis lagi..
setelah menghadapi rasa malas mengunjungi Dasbor :D *dijitak pengunjung blog

Well..
Setelah adegan dramatik "pertamakalinya" dalam hidup yang terjadi kemaren dulu, 
kehidupan saya berubah drastis...
Bagi yang belum tahu, Senin kemaren entah mengapa saya pingsan untuk pertamakalinya.
MoM kembali seperti dulu, setiap jam menanyakan 'apakah kamu sudah makan dan minum vitamin?', 
Saya beruntung, laptop dan HP tetap pada tempatnya...
apakah saya sakit? tidak, saya hanya tidak disiplin sama pola makan, ditambah aktivitas saya yang bertambah padat dua minggu terakhir ini, semua itu terasa masuk akal...
Tenang saja, saya masih Nha yang dulu...
Kalian masih akan menemui Nha yang akan begadang membaca, menulis, murajaah atau online semalaman :D (hehehe)
Kali ini Nha hanya ingin berbagi sedikit...
Kalian tau kutipan berikut?

Made a wrong turn, once or twice
Dug my way out, blood and fire
Bad decisions, that’s alright
Welcome to my silly life
Mistreated, misplaced, misunderstood
Miss ‘No way, it’s all good’, it didn’t slow me down
Mistaken, always second guessing, underestimated
Look, I’m still around

 

Ya, benar. ini adalah penggalan lirik sebuah lagu berjudul Fuckin Perfect yang dinyanyikan sama PINK.
Pertama kali dengar lagu ini sih, versinyaKurt sama Blane nya Glee, hehehe...
Well, ini lagu lumayan cocok sama hal yang bakal Nha bahas :)

Terkadang, saat kita berinteraksi dengan banyak orang, seringkali kita salah bertindak, salah bersikap, dan hal itu dilakukan dengan tidak sengaja. Bukan, ini bukan pembelaan, tapi ini kenyataannya.
Nha selalu bilang, salah benar itu relatif. mengapa? karena semua nilai salah atau benar itu, kadang tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Menurut kita benar, belum tentu orang menilainya sama seperti apa yang kita harapkan. Jadinya? SALAH FAHAM...

Sebelum kita bereaksi terhadap sesuatu, mungkin ada baiknya kita mencari "sebab"... bukan untuk dijadikan alasan, pembelaan, atau pembenaran, tetapi lebih kepada agar kita "Adil" saat bereaksi. Tundalah amarah, singkirkanlah prasangka, Ini akan membantu agar kita lebih bijak saat bersikap.

Teman2 masih ingat postingan nha beberapa saat yang lalu? Yang membuat kita hidup dengan nyaman adalah saat kita mampu berpikir positive dalam saat apapun... Nha percaya, saat semua orang mampu berpikir positive dalam menghadapi segalanya... pasti gak ada lagi yang namanya salahfaham di dunia ini...

Guyz...
percaya deh, menjadi orang yang terus menerus disalahfahami itu sangat melelahkan...
status BBM saya hari ini " Don't You get Tired to Be Frequently misunderstood?"..
Semoga kita mampu melihat lebih dari apa yang nampak dan mendengar jauh dari apa yang tersiar.. agar kita tak pernah salah faham atau disalahfahami oleh siapapun juga.. :')
and The last... Nha Mohon Maaf untuk semua salah dan khilaf yang mungkin saja karena salah faham atau disalahfahami :')  

nduk'NHA

Sabtu, 13 Oktober 2012

MUAK

Kepada Segenap makhluk verbal di jagad raya :


visual fisik menjadi syarat mutlak untuk kalian


sekalipun otak ditinggalkan di rumah


berbagai syarat kalian gaungkan


sehingga hidung-hidung pemilik modal


dengan tajamnya mencium peluang


dibangunlah hegemoni-hegemoni penipu


cantik adalah segala


rona merah wajah muluslah yang akan meraja


apa kabar tampilan biasa nan sederhana?


sudah matikah ditikam hasrat membuncah?


lalu, siapa yang berdiri paling depan mengkritik


bahwa Hawa kini jadi komoditi ?

coba tanya cermin


siapa yang menginginkan kulit mulus putih berdiri di 

sampingnya?  

 

sajakpagi-Fitriyalam

nduk'NHA

Selasa, 09 Oktober 2012

Surat Cinta untuk kamu

 Suratku ini aku awali dengan kata-kata, “Aku sangat merindukanmu, mungkinkah rinduku berbalas?” Dulu kau sering mendatangiku dan menciumku. Kini, kau tempatkan aku di tempat yang nyaman, namun itu menyiksaku karena kau jarang bercengkerama denganku. Kau lebih sibuk berlama-lama dengan iPad dan BB-mu.
Saya benar-benar sangat iri dengan iPad dan BB yang kau miliki. Kemana pun kau pergi, mereka selalu kau bawa. Saat di rumah pun kau asyik dan rela berlama-lama dengan mereka berdua. Sementara aku, tetap kau abaikan. Padahal, sibuk di depan iPad dan BB belum tentu semuanya memberi manfaat dan berpahala.
Ketahuilah, saat kau bercengkerama denganku setiap hurufku memberi satu kebaikan dan memberikan 10 kali lipat pahala walau mungkin kau tak tahu maknanya. Bahkan saat kau terbata-bata saat berucap, kau justeru mendapat dua pahala. Pahala membacaku dan pahala karena kau kesulitan mengucapkannya.
Siapa yang berpegang teguh kepadaku maka ia tak akan tersesat, tapi mengapa kau merasa tak bersalah saat jarang menyapaku. Kau malu bila belum membaca buku atau novel best seller, tapi mengapa kau tak merasa malu sedikitpun belum menyelesaikan membacaku? Aku ada bukan untuk kau simpan di almarimu tetapi seharusnya untuk kau simpan di hatimu. Tetapi bagaimana mungkin aku bersemayam di hatimu bila kau jarang membacaku?
Seharusnya aku dipelajari bukan hanya ketika kau kecil tetapi seharusnya setiap waktu. Mengapa? Karena aku ini pedoman hidupmu. Aku bukanlah “mainan” yang hanya kau baca saat kau kecil.  Aku ada juga bukan hanya sekedar menjadi mas kawin saat kau menikah. Bukan pula hanya untuk kau ingat, saat ada kematian di keluargamu.
Mengapa hidupmu kacau? Mengapa kau sering jenuh? Mengapa hidupmu sering gelisah? Mengapa kau sering berani berbuat maksiat? Mengapa kau banyak tak mengerti ketentuan Tuhanmu? Itu karena kau jarang bercengkerama denganku.
Demikianlah suratku untukmu, semoga kau mengerti keluhan dan deritaku. Aku ingin kau manjakan seperti iPad dan BB-mu.
Yang rindu padamu,
Kitab Sucimu


(Dikutip dari www.jamilazzaini.com)
 Follow di twitter: @jamilazzaini


Rabu, 26 September 2012

Merayakan Kenangan (Sebuah catatan dari Karenapuisiituindah By: Tia Setiawati, mari menikmatinya... ^_^)

Bismillah,
Halo dear, siklus bulanan sudah lewat, mod menulis datang lagi... 
kali ini, menghormati seorang penulis pertama yang mengirim bukunya langsung dan menandatanganinya untukku... ku berikan hadiah review, untuk #Septemberituceria miliknya... :) hadiah yang kuberikan lebih awal...

Akhirnya setelah sekian lama menunggu, sebuah buku kuning tiba tiba di meja kamarku. Membaca sebuah pesan spesial dari penulisnya membuatku harus menahan napas, aku ingin segera membacanya. Padahal saat itu ada empat orang klien yang sedang berbincang di ruang tamu. Terpaksa aku harus menahan rasa penasaranku.

"Dear Erna, Harapanmu tak pernah terlampau tinggi. 
Kau hanya perlu berusaha lebih kuat lagi. Jangan Menyerah :)"



Dengan ditemani bantal emot berwarna kuning dengan gambar kacamata hitam, secangkir tehsusu, dan sebungkus biskuat cokelat, mari membaca berlembar-lembar perasaan...

"KARENA PUISI ITU INDAH", aku sudah tahu sejak lama. Tapi kali ini aku menemukan sebabnya. Bagaimana kata-kata yang menjelma puisi bisa menceritakan hal-hal yang kadang bahkan diam pun tak dapat menjelaskan.

TIA SETIAWATI, Seorang yang kukenal saat tak sengaja menelusuri sebuat retweet dari akun seorang teman. Bio-nya yang mengatakan bahwa "Tuhan selalu tepat waktu" menarikku untuk mengikuti 140karakter yang ia tuliskan di lini masa :)

Sampulnya dominan warna kuning (yang ku tahu merupakan warna faforite si penulis :)). Desain covernya sederhana, sepasang insan sedang berpelukan di sisi depan dan sepasang tangan sedang saling menggenggam di sisi lannya. Aku menafsirkannya sebagai harapan penulis tentang ending segala puisi yang ada di buku ini, "Bersama".



Membaca puisi-puisi kak Tia (demikian aku memanggilnya :D) seperti merayakan kenanganku sendiri (seperti judul reviewku). Mungkin ini sering dialami para penikmat puisi. Kadang sebuah puisi menujukkan apa yang kita rasakan, mewakili kisah yang selama ini kita jalani, dan penuh harap agar akhir yang sama terjadi seperti layaknya dalam puisi, Indah. Walaupun tak dapat disangkal, tak semua ending bahagia.

Kak Tia tak menggunakan metafora, personifikasi, ataupun teman-temannya. Mungkin ia sudah bosan karena berkali-kali orang-orang menilai kata-katanya yang sederhana. Kesederhanaanlah inilah yang membuatku tak perlu bersusah payah mencari makna, menikmati setiap kisah yang ia ceritakan lewat rima-rima yang indah. Walaupun mungkin, makna yang ingin Kak Tia sampaikan bisa saja tak sesederhana kelihatannya.

Memulai kisahnya dengan "Kepada Hati". Saat membaca bagian ini, aku tersipu-sipu sendiri. Seperti mengulang kisahku sendiri, ya seperti judul review ini, aku sedang merayakan kenangan. Kak Tia mengawali cerita tentang bagaimana rasa berbunga-bunga yang kita alami kadang selalu dimulai dengan hal yang begitu sederhana. Hal ini terlihat dari puisi pertama yang ia suguhkan berjudul "Kita berjalan pada ketidak sengajaan" bait terakhir membuatku tersentak,

"Namun ketahuilah,
bahkan hal paling sederhana sekalipun,
tak akan luput dari rencana Tuhan,
:Sang Penguasa Semesta"

Tapi ternyata Cinta yang diawali sebuah kesederhanaan tak selamanya kisahnya akan sederhana pula. pada bagian ini Kak Tia mengajak pembaca menikmati rasa gundah saat menunggu, rindu, dan segala haru biru rasa saat mencintai. ah.... aku sangat menikmatinya. Sebuah puisi di halaman 47 ku dedikasikan untuk kamu, abjad terakhir penutup yang selalu ku harap menjadi ending dari kisahku. Apa judulnya? Ah, itu sebuah pesan untukmu, aku takkan menulisnya di sini. Jadi silahkan ke toko buku dan cari tahu :D hehehe. 

"Aku (masih) menunggumu, selalu"

Di Bagian kedua "Genggaman tangan", Kak Tia menulis apik kisahnya saat bersama. Bersama siapa? Bersama si sumber inspirasi tentunya. Tentu kita tahu dalam sebuah hubungan yang ada tak selalu tentang hal-hal "yang diinginkan" saja. pasti ada beberapa hal yang "tidak diinginkan" juga. Pada bagian ini saya hanya terdiam menikmati. Kau benar Kak Tia, cinta tak selamanya  tentang bahagia saja. Hei, puisi faforitku ada pada bagian ini. terletak pada halaman yang angkanya saling menyatu satu sama lain bagaikan cermin. apa itu? jika kau mengerti aku, kau pasti tahu. Ya, puisi itu tentang Hujan. Tapi untuk membacanya sekali lagi kau harus membeli toko buku :)

"Hujan adalah kenangan 
tentang bagaimana jari-jari kita bertemu"


Ada awal, ada tengah, ada akhir. Sudahkah ku katakan bahwa "Karenapuisiituindah" seperti sebuah perjalanan? Bagian "Air mata" memaksaku mengambil sekotak tisu untuk menyeka bulir-bulir yang tak sengaja jatuh di ujung mata (nah! Kak, bagian inilah saat kau bilang aku seperti ingin menusukmu dengan garpu. hehehe) Aku benar-benar merayakan kenangan. Ada pertemuan ada perpisahan, lengkaplah "karenapuisiituindah".

Sudah selesei? belum. Ada bagian yang belum kuceritakan... tentang bagaimana Kak Tia mengajak pembaca mengenal cinta yang lain. Kau tahu, cinta tak melulu milik sepasang kekasih. Pada bagian akhir buku ada dua bagian yang membuatku terpesona. Cukup jujur dan lugas, Kak Tia menunjukkan cintanya pada Sang Cinta, Ayah, dan ibunya.  

Ahh... Penasaran? Jika kau penasaran seperti apa CINTA, kau harus segera ke toko buku dan membaca kisah ini. semoga kau menikmatinya seperti aku sangat menikmatinya.

Jika kau ingin menikmati kisahnya setiap hari... carilah @TiaSetiawati  :)

Ah.. inilah penjabaranku,
Semoga cukup. Bolehkah aku meminta Kak Tia? Lain kali kau menulis sebuah buku, Kisahkanlah tentang Hujan sebanyak kau bisa menceritakannya.. karena aku sangat mencintai hujan dalam suka dan dukaku. (Suka-suka yang nulis donk nha, banyak maunya lu! -Yee biarin namanya aja Request-- hehe)

Finnally,
Untuk Kak Tia, 
semoga Septembermu benar-benar ceria...
:)

nduk'NHA

Senin, 10 September 2012

Obat terbaik dari sebuah luka

Bismillah,

Dear pembaca...
Terima kasih masih setia membaca :)

Senin,
Saat orang-orang bersungut-sungut menyambut hari ini karena harus "kembali bekerja",
Seperti biasa Nha duduk manis depan laptop sambil nyeruput teh susu plus perasan jeruk nipis dan sepiring lapis legit.... nyantai...gak pusing sama buru-buru, macet, rempong coy.. hahaha :D

Btw Anyway Busway...
Sms seorang teman tadi malam cukup mengejutkan, YUP! hal itu yang ingin Nha bahas :)

2tahun yang lalu Nha pernah berada dalam masa-masa super galau :)
Galau dikarenakan Nha disakiti seseorang. Masa-masa itu adalah masa-masa tersuram dalam hidup. penyesalan, rasa bersalah semua ngumpul jadi satu. Ada waktu-waktu dimana Nha bengong sendirian di kamar entah memikirkan apa, tidak bisa tidur semalaman, paginya seperti zombie dengan mata panda akibat begadang.

Masa-masa itu sangat menguras emosi... Nggak, Nha bukan dendam, Nha gak pernah dendam... hanya saja Nha sempat merasakan sedih yang luar biasa. Rasa sakit yang sangat dalam. Rasanya melihat orang lain tersenyum itu berat, karena merasa Nha gak bisa tersenyum seperti mereka. Semua itu karena rasa sakit yang teramat dalam.

Benar kata Meggy Z, lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Sakit gigi masih ada obat dan dokter yang bisa membantu menyembuhkan. Sakit hati, tergantung seberapa cepat kita merelakan. Apakah Nha tidak berusaha mengatasi rasa sakit ini? Bukankah obat hati adalah mendekat padaNYA? Bodohnya saat itu Nha lupa. Keadaan fisik yang dikuasai hormon bulanan ternyata menjadi sebab semua emosi itu sangat berlebihan.

Nah, kembali ke SMS dari teman tadi. kalimatnya cukup pendek, tapi cukup untuk mengingat semua masa-masa suram itu, "Nha, masih suka minum Jus di Cafe depan Mega?" Yup, dulu waktu masa galau, setiap pulang kerja Nha selalu mampir minum jus di sana. dan pertanyaan itu sebenarnya pertanyaan sindiran :D  si teman rupanya ingin bertanya, "apakah kamu sudah bisa melupakan kesedihan itu?"

Guyz...
Merelakan sesuatu bukanlah hal mudah, terlalu banyak rasa yang dilibatkan untuk mengalaminya. Marah, sedih, nggak percaya, semua numpuk jadi satu, jika kamu bertanya apa yang Nha lakukan untuk pulih seperti sekarang, itu semua karena Nha meminta maaf :) Yup benar, meminta maaf...
Tapi kan, bukan kamu yang salah Nha, tugasmu harusnya memaafkan bukan malah minta maaf...

Dear,
rasanya mungki berat, meminta maaf pada seseorang yang menyakiti kita, tapi percayalah hal itu akan membuatmu lebih mudah mengikhlaskan dan memaafkannya. Anggap saja dia tak sengaja melakukan kesalaahn itu, atau memnag ada kesalahan kita yang tidak kita sadari menyebabkan orang tersebut bali menyakiti kita. Atau mungkin saja sakit ini memang akibat perbuatan kita di masa lampau..mungkin pernah kita menyakiti orang lain dan sakit yang ada sekarang adalah karma yang Tuhan kirimkan kepada kita.

Lagi pula, maaf yang kita ucap mungkin saja akan menyelamatkan hal lain, selain hati kita tentunya. Kadang kala mengucapkan kata maaf membutuhkan kekuatan untuk menyingkirkan ego. Maaf tak sekedar untuk memohon maaf tapi juga salah satu cara kita memaafkan. Adakalanya seseorang sadar jika ia salah, tapi karena egonya yang begitu besar kata "maaf" sangatlah berat diucapkan. dengan kita meminta maaf kepada orang yang menyakiti kita, sesungguhnya kita menyelamatkan dua hati. hati kita sendiri dan hati orang yang menyakiti dari rasa bersalah seumurhidup karena gengsi mengucapkan kata maaf.

Intinya, berpikirlah positive atas apa saja kemungkinan-kemungkinan yang ada, Tuhan tidak pernah memberian cobaan kepada ummatnya melebihi dari kemampuan kita menghadapi cobaan tersebut. Belajarlah untuk tidak menyalahkan sesuatu. Percayalah semua sudah diatur oleh Sang Maha dengan begitu apik. Percaya ini semua bagian dari skenarioNya.

Satu perkataan guru saya yang selalu saya ingat...
"Saat seseorang menyalahkan orang lain dia perlu belajar, Jika seseorang menyalahkan diri sendiri dia mulai belajar, Ketika dia tidak menyalahkan siapa-siapa maka pembelajaran telah usai"

nduk'NHA

Minggu, 09 September 2012

"The Alcemyst" (The Secret of The Immortal Nicholas Flamel)

Bismillah,
Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Halo Dear,
hehehe, kaget yah :D tiga hari ini Nha muncul berturut-turut..
iya nih Dear, Nha sedang menjalankan program "Update setiap hari"
Alhamdulillah, sekarang Nha punya kerjaan yang tidak terlalu mengekang soal waktu jadi Nha punya banyak kesempatan untuk menulis :)
Tapi Nha g bakal bahas tentang kerjaan :D
Kali ini Nha mau bahas tentang novel yang sedang nha kejar2....

Setelah Harry Potter tamat, Nha sudah siap dengan novel lain yang bakal ku tunggu setiap kabarnya seperti Harry Potter..
masih tentang Magic... he he he... (selera novel saya emang begituan, maklum yah )
kali ini seri ' The Secret Of Nicholas Flamel'
Seri novel ini ditulis oleh Michael Scott... Seorang Ahli mitologi dan cerita rakyat, penulis Irlandia paling sukses ^_^
Hingga detik ini, 5 buah seri novel ini sudah nangkring di rak bukuku...
The Alcemyst, The Magician, The Sorceres, The Necromancer, dan The Warlock....


The Magician (The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel, #2)
The Sorceress (The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel, #3)



Rangkaian novel ini sukses bikin saya dag dig dug, dan gak sabaran untuk membaca kelanjutannya...

Berbeda dengan kisah Harry Potter yang sebagian besar bercerita tentang sihir, sihir, dan sihir.
Dalam buku ini sihir dipadu padankan dengan teknologi modern yang mengharuskan Nha untuk bilang "WOW....." :D
Selain itu dalam buku ini Nha juga banyak belajar tentang tempat-tempat bersejarah dan tokoh-tokoh terkenal. Kok bisa? Ya, karena om Michael menggunakan tempat-tempat tersebut sebagai latar novelnya, dan tokoh-tokoh itu sebagai lakon dalam novelnya.

PENASARAN?
hehehe...
memang tujuannya seperti itu...
Nha dari awal gak niat bikin review biar pada penasaran :p
kalau pengen tau ceritanya segera serbu toko buku yah ^^/

And then, sekarang ini Nha lagi nunggu-nunggu buku pamungkas penutup keseluruhan kisah ini...
Kabarnya buku terakhir yang berjudul "The Enchantress" sudah diterbitkan sejak May 2012 versi Englishnya, sayang banget bahasa inggris Nha jelek jadi harus bersabar menanti edisi Bahasa Indonesianya terbit, Semoga gak lama lagi :(








nduk'NHA

Sabtu, 08 September 2012

Sebuah Munajah Yang Tak Pernah Henti Berharap

Hujan, selalu bisa membawa aura sendu...
Sujudku, lagi-lagi harus berujung pada namamu :')

Lelah? 
Tidak, Toh aku cuma meminta,
tinggal meminta saja, sudah janjiNya akan memberi,
Ikhtiarku sudah, Selanjutnya tinggal ku pasrahkan pada Nya..

Sekali lagi,
Aku tak perlu bersusah diri mengemis padamu,
aku hanya butuh keridhoanNya,
Karena kamu milikNya,
aku minta hatimu, padaNya..

Aku tak pernah memperdulikanmu,
MEMANG..
aku sibuk...
sibuk memita padaNya,
sibuk melakukan perintahNya.
Berbenah, Memantaskan diri,
Untukmu.


nduk'NHA

 Jayapura, 15 Februaru 2012

Jumat, 07 September 2012

Alasan selalu benar


Bismillah...
Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh ^_^
Senang banget bisa menyapa semuanya lagi disini...
setelah sekian lama ini blog ditinggalkan berjamur sampai di tiap entrinya ada sarang laba-labanya -_-
hehehe *lebay
Well, sebenarnya Nha mau posting ini disaat #WorldHijabDay beberapa hari yang lalu..
tapi berhubung baru ada kesempatan sekarang ini, jadi baru sekarang ngepostnya...
Yupp..
postingan kali ini, lagi, lagi, dan lagi soal hal simple tapi sering dianggap rumit sama kebanyakan cewek...
Yups.. Berjilbab ^^/
Entahlah, apa yang dipikirin sama teman2 cewek semua yang belum berjilbab,
adaaaa aja alasannya >,<
Nha kadang2 sampai bosen dengarnya...
Kali ini Nha gak bakal banyak ngetik...
Nha bakal jawab semua Alesan2 itu pakai gambar...
Gambar-gambar ini seperti biasa Nha dapet dari Ukhtie Dhiba yang punya www.komikmuslimah.blogspot.com ^^/
Gambar yang ukhtie Dhiba buat beberapa terinspirasi dari tweet ustad @Felixsiauw yang sering Nha RT juga...
Nah...
 
Alasan pertama, pada gak mau kerudungan karena banyak yang beranggapan kerudungan itu kuno,
Hello.... gak belajar sejarah ya??? Jaman Purba dulu manusia pakai kulit hewan dan daun dijadiin baju, jaman jahiliah manusia pakai baju yang tak pantas, kekurangan kain, kekurangan benang, dan transparan, saat Rasululloh datang meninggalkan jaman Jahiliah, kalian malah mengulang jaman tersebut, sekarang akne balik nanya', sebenarnya yang kuno siapa sih -____-
 
Alasan kedua ini sering banget diucapin.. yang kerudung juga banyak yang nyolong, banyak yang gak solat, banyak yang ini, banyak yang itu, tapi kan gak berarti semua kan kayak gitu? jangan pakai generalisasi deh.. kalau kata ukhti Dhiba sama ajah kayak kamu bilang "semua burung hitam adalah gagak"
Nah ini nih... populer banget.... "mending jilbabin hati dulu, baru jilbabin fisik"... hati mah Alloh udah tau, Jilbab fisik itu kewajiban, logikanya deh kamu mau dibilang baik, tapi ngingkarin perintah Alloh... ? ckckck.. salah paham tuh..
 
Nah alasan keempat ini biasanya ngikutin alasan ketiga... kalau kata Nha sih, maksiat atau gak itu tergntung kamunya, bukan tergantung kerudungnya...  malah klo menurut Nha kerudung itu bakal jadi pengingat dan koreksi untuk diri sendiri kok... secara gak langsung... contoh: udah kerudungan masih sering bolong solatnya, nanti pasti lama2 solatnya g pernah bolong, malu, sudah kerudungan solatnya masih bolong, percuma :)
 
 
Nahlo!!!
siapa yang jadiin alesan kelima ini buat gak kerudungan? Yang ngasih jodoh siapa sih??? Alloh kan? so ngapain takut??? yang nyuruh kerudungan juga siapa? Alloh kan??? Mikir deh....
 
kalau calon suami gak suka, berarti calon suaminya gak taat sama Alloh, TINGGALIN!!!! teriak pake toaa..
 
Yaelah saudariku.... Rejeki itu yang ngatur Alloh.... lagian sekarang gak jaman ngaryawan, jadi #womenpreneur donk... kayak ibunda Khadijah.. ciptakan lapangan pekerjaan, jaman sekarang banyak ibu2 sukses membuka home industri :)
Iyah bener banget.. hidup itu pilihan, silahkan... Mau menaati Alloh, atau mau beralasan.... silahkan... mau pilih surga, atau neraka, silahkan.... :D
 
Kalau alasannya karena gak bebas, gak bebas apanya? gak bebas ngeliatin paha sama rambut? *istigfar woiiii...
emang udah belajar budaya arab? berani bilang hijab budaya arab? *nanya balik
 
NO COMMENT!!! ^^/
Ini mah alesan yang mengada-ngada, tergantung kamunya rajin atau nggak sampoan.... hehehe
Jadi? lebih baik GAUL tapi masuk NERAKA daripada kerudungan?  *merinding
Ni alasan aneh, udah tau ada di Alquran pake bilang gak wajib segala -___- gak pernah baca quran yah non? PANTES!
Semua yang berkaitan kewajiban itu gak boleh diremehkan Ukhtie :)
 
Hmm... yang menciptakan kamu siapa sih? kok lebih takut sama anggapan manusia daripada Sang Pencipta....?? *bengong..
 
 Hei.... Kerudung itu kan IDENTITASmu ukhtie!!!
Ada yang alasan kayak gini? jadi kamu takut g bisa bermaksiat gara2 kerudungan? kan malah bagus, gimana sih -__-
Hidayah itu dicari, bukan ditunggu :)
 
Nanti itu, sinonim dari GAK AKAN PERNAH!!! lagian emang kamu bisa bilang sama malaikat pencabut nyawa: "nanti aja yah nyabut nyawanya aku kerudungan dulu..." ckckckcck...
Makin lama alasannya makin absurd deh... hehehe
semoga bermanfaat yah teman2...
doa saya semoga yang belum berkerudung segera berkerudung, yang sudah berkerudung segera berjilbab agar bisa sempurna dalam berhijab :)
Mata udah 5watt *sepertiga malam
Wassalam ^_^
nduk'NHA
nduk'NHA

Dalam ikatan Rabitah

 
Bismillah,
Dear Thy,
Tepat tengah malam saat tak sengaja menemukan "komentarmu" di sebuah tulisan blogku...
Rasa rindu itu menusuk seperti dinginnya udara tanpa ampun...

kau ingat? aku selalu bilang, tidak ada kebetulan di dunia ini...
Ku telusuri kata demi kata yang kau tuliskan di blogmu,
Berlebihan kah kalau aku menangis?
tidak, bukan sekedar tetes airmata syahdu, tapi benar-benar menangis ssenggukan...
mungkin ini namanya tangisan haru :')

Thy..
mengingat awal kebersamaan kita yang aneh...
"menentang alam" kata beberapa teman...
Kau tidak banyak bicara, aku Cerewet dalam porsi yang kadang berlebihan
kau lebih senang tersenyum, aku suka tertawa...
kau suka warna biru, aku tidak. karena biru mengingatkanku pada laut, 
mengingatkanku bahwa sampai saat ini aku belum bisa berenang,
Kau sederhana saat menampilkan sesuatu, aku sangat rumit.
Gamis dan kerudung polos itu gayamu "selalu", aku? lebih suka bereksperimen, walau kita berdua sama2 tidak pernah lupa memakai kaus kaki kemanapun kita pergi ^_^
Tapi semua perbedaan ini tak pernah bisa membuat kita gagal "berteman"

Dear..
kau ingat.... dulu kau kurus sekali >,<
Sebaliknya, aku gemuk..
kencan pertama kita saat itu dengan segelas Jus Alpukat jumbo...
aku ingat... :)
beriring kebersamaan kita, kau dan aku berubah..
aku jadi kurus, kau jadi gemuk :D
percayalah, aku masih bertanya-tanya tentang itu...^^

kau tahu,
aku belum sepenuhnya ikhlas menghadapi perpisahan itu...
tanpa pelukan, bahkan kau masih utang "kencan empek-empek" padaku...
itu sebabnya mengapa pesanmu tak pernak ku balas :(
maaf... aku selalu bermasalah dengan perpisahan..
aku selalu benci saat mengingat kata2mu:
"kita harus belajar agar tidak terlalu bergantung satu sama lain jikalau kita berpisah nanti..."
apakah kau berhasil? terbiasa tanpaku? jujur aku tidak pernah berhasil terbiasa :)
aku hanya sok tegar (ketahuan deh, hehehe....)

Hei...

 kau ingat foto ini?

Yup benar :') ini foto saat kita sama2 berjuang :)
ingat lagu ini..
"Di sudut surau itu, menyimpan kisah...... :)"

 
aku selalu tertawa tiap melihat foto ini, menyadari bahwa "gamis" ternyata membuat kita berdua terlihat sangat gemuk :D

dan.. kalau tak salah menebak, ini foto terakhir kita :)
 


Dear...
jarak ini takkan mampu mengikis cinta kita kan :)
karena seperti katamu, cinta kita akan selalu terpaut karena selalu terikat Rabitah...
Semoga, selipan nama dalam sepertiga malam kita senantiasa diberkahi oleh ALLOH..
aku menantikan momen itu dear...
saat kita tersenyum di dalam Jannah_Nya bersama :)


The last...
Di tengah banyak perbedaan kita berdua, 
apakah selera yang "itu" masih belum berubah?
hahaha....:)

Alfatihah untukmu Dear...
Dengan penuh cinta,

nduk'NHA
 

Erna Cahaya Template by Ipietoon Cute Blog Design